AS bela penggunaan 'Induk dari Segala Bom' yang tewaskan 36 milisi ISIS

John Nicholson Hak atas foto EPA
Image caption Jenderal John Nicholson mengatakan penggunaan bom dahsyat untuk menyerang basis ISIS bisa dimengerti.

Penggunaan bom dahsyat yang dijuluki 'Induk dari Segala Bom' ke basis kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Afghanistan 'semata-mata didasarkan pada alasan taktis'.

Hal ini disampaikan komandan militer Amerika Serikat paling senior di Afghanistan, Jenderal John Nicholson, yang mengatakan bahwa penggunaan bom nonnuklir paling dahsyat ini bisa dipahami.

Jenderal Nicholson mengatakan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb tersebut adalah jenis senjata yang tepat untuk menyerang sasaran pangkalan kelompok militan di Provinsi Nagarhar di Afghanistan timur.

"Secara taktis, ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan GBU-43 ... kami tidak akan mengendurkan upaya dalam misi menghancurkan ISIS (di Afghanistan). Tidak boleh ada tempat berlindung bagi teroris di Afghanistan," kata Jenderal Nicholson, dalam keterangan kepada para wartawan hari Jumat (14/04).

Hak atas foto EPA
Image caption Tentara Afghanistan menunjuk ke kawasan yang menjadi sasaran 'Induk dari Segala Bom' hari Kamis (13/04).

Ia juga mengatakan serangan ini tidak menimbulkan korban di pihak sipil. Di sisi lain, bom masif itu menghancurkan persenjataan ISIS 'dalam jumlah besar'.

Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan bom menghantam area di Lembah Momand, yang menjadi lokasi jaringan gua-gua sepanjang 300 meter.

Pejabat setempat, Ismail Shinwary, kepada BBC mengatakan pasukan khusus Afghanistan yang didukung Angkatan Udara AS mulai beroperasi di sekitar sasaran serangan sekitar 13 hari lalu.

Kelompok ISIS sering diserang tapi 'yang tadi malam adalah yang paling dahsyat'.

"Ledakan bom terbesar yang pernah saya saksikan," ujar Shinwary.

Para pejabat Afghanistan mengatakan sekitar 36 milisi ISIS tewas, sementara ISIS membantah serangan tersebut menyebabkan jatuhnya korban di pihak mereka.

Berita terkait