Prancis gelar pemilu presiden, pengamanan diperketat

Pilpres prancis Hak atas foto AFP
Image caption Sekitar 50,000 anggota polisi dan 7,000 tentara telah dikerahkan di seluruh negeri setelah serangan oleh seorang pria bersenjata, Kamis lalu.

Pemerintah Perancis memperketat penjagaan keamanan menjelang Pemilihan Presiden yang digelar pada hari Minggu menyusul serangan teroris di Kota Paris.

Sekitar 50,000 anggota polisi dan 7,000 tentara telah dikerahkan di seluruh negeri setelah serangan pada Kamis lalu oleh seorang pria bersenjata.

Sebelas kandidat bersaing untuk memperebutkan kursi presiden, dengan latar belakang ideologi politik yang mencakup mulai aliran kiri-jauh hingga kanan-jauh.

Dua kandidat yang memperoleh suara terbanyak pada putaran pertama akan melaju pada putaran kedua.

Empat kandidat diprediksi lebih berpeluang memenangi pilpres, yaitu François Fillon dari kelompok konservatif, pemimpin kelompok berhaluan kanan-jauh Marine Le Pen, pemimpin liberal Emmanuel Macron dan pemimpin kelompok kiri-jauh Jean-Luc Mélenchon.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lima orang kandidat yang dianggap paling berpeluang (dari kiri ke kanan: François Fillon, Benoît Hamon, Marine Le Pen, Emmanuel Macron dan Jean-Luc Mélenchon.

Selama kampanye, para kandidat terlibat perdebatan panas, karena mereka menawarkan visi berbeda tentang masalah Uni Eropa, isu imigrasi, ekonomi dan persoalan keidentitasan Prancis.

Dan saat pemungutan suara yang digelar hari Minggu (23/04), pengaman ekstra ketat digelar di seluruh Prancis menyusul serangan bersenjata oleh pria bernama Karim Cheurfi terhadap anggota polisi di Champs Elysees, Paris.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pemilu presiden Prancis diprediksi akan berlangsung hingga putaran kedua, karena semua calon dianggap tidak mampu meraup suara hingga 50%.

Cheurfi akhirnya tewas ditembak aparat kepolisian Prancis dan dia diketahui mendukung kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS.

Keamanan nasional telah menjadi salah satu materi utama yang disorot selama kampanye, tetapi para kandidat dituduh mengeksploitasi dan mengambil keuntungan politik dari kasus kekerasan tersebut.

Bagaimanapun, pemilu presiden Prancis diprediksi akan berlangsung hingga putaran kedua, karena semua calon dianggap tidak mampu meraup suara hingga 50%.

Pilpres putaran kedua - yang diikuti dua cal;on peraih suara terbanyak - digelar pada 7 Mei.

Presiden François Hollande, yang tidak populer, tidak maju kembali dalam pilpres untuk masa jabatan keduanya. Dia merupakan presiden Prancis pertama dalam sejarah modern negara itu yang tidak melakukannya.

Berita terkait