Otorita Palestina hentikan pembayaran, pasok listrik ke Gaza terancam putus

Warga di Gaza Hak atas foto EPA
Image caption Pemadaman listrik di Gaza bisa berlangsung hingga 20 jam per hari.

Pasok listrik ke Jalur Gaza terancam diputus sama sekali setelah Otorita Palestina menghentikan pembayaran ke pihak Israel yang selama ini menyediakan listrik ke kawasan tersebut.

Penghentian pembayaran dilakukan hari Kamis (27/04) yang dipandang sebagai isyarat memburuknya hubungan antara Otorita Palestina yang berkantor di Tepi Barat dan Hamas yang menguasai Jalur Gaza.

"Sudah ada pemberitahuan dari Otorita Palestina bahwa mereka menghentikan pembayaran listrik sesegera mungkin, yang selama ini disalurkan ke Gaza melalui 10 jalur dengan kapasitas 125 megawatt atau setara dengan 30% dari total keperluan listrik di Gaza," demikian pernyataan badan militer Israel yang ditugaskan menjadi penghubung dengan dengan Otorita Palestina.

Seorang pejabat senior PBB mengkhawatirkan perkembangan ini dan menyerukan langkah cepat dari Israel, Otorita Palestina, dan masyarakat internasional untuk memastikan layanan kebutuhan dasar di Jalur Gaza, yang dihuni oleh sekitar dua juta warga, tetap tersedia.

Pasok listrik di Gaza pada siang hari sering mengalami pemadaman dan keputusan Otorita Palestina akan menyebabkan warga tidak akan mendapatkan aliran listrik sama sekali.

Otorita Palestina, yang didukung Barat, gagal menyepakati perjanjian untuk mengurangi kekuasaan Hamas sejak Hamas mengontrol Jalur Gaza dari faksi pimpinan Presiden Mahmoud Abbas pada 2007.

Juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri, kepada kantor berita Reuters menggambarkan penghentian pembayaran tersebut 'tindakan yang gila'.

Sangat mengandalkan Israel

Hak atas foto EPA
Image caption Pembangkit listrik di Gaza berhenti beroperasi sejak 17 April.

Terkait pasok listrik dan bahan bakar minyak (BBM) ke Gaza ini, pemerintah Israel berhubungan dengan Otoritas Palestina karena Israel menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.

Otorita Palestina sudah mengambil beberapa langkah, di antaranya mengenakan pajak atas BBM yang mereka beli dari Israel, yang dipergunakan untuk menjalankan satu-satunya pembangkit listrik di Gaza.

Pembangkit listrik di Gaza ini tak punya dana dan karenanya sudah berhenti beroperasi sejak dua pekan lalu.

Sejumlah kalangan menilai langkah Otorita Palestina ini sebagai tekanan bagi Hamas agar setuju dengan pelaksanaan pemilu baru Palestina.

Menguasai kembali Gaza bisa menambah 'legitimitasi politik' Abbas ketika Israel dan Palestina tengah menunggu Presiden Trump yang diperkirakan akan mendorong perundingan damai Timur Tengah, yang berhenti pada 2014.

Pasok listrik dari Israel sangat penting bagi warga Gaza ketika pembangkit di Gaza berhenti beroperasi sementara pasok dari Mesir tak bisa diandalkan.

Juru bicara Otorita Palestina dan Otorita Energi Palestina menolak memberikan komentar.

Topik terkait

Berita terkait