Puluhan orang Yazidi kini bebas dari perbudakan ISIS

Dohuk Hak atas foto Getty Images
Image caption Ke-36 korban penyekapan ISIS dari kelompok minoritas Yazidi dibawa ke Dohuk, Irak utara.

Tiga puluh enam anggota kelompok minoritas Yazidi kini bebas setelah diperbudak oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS) di Irak.

Mereka sudah tiba di pos-pos PBB di Dohuk, wilayah yang dikuasai kelompok Kurdi di Irak utara. Kepastian itu disampaikan oleh PBB pada Minggu (30/04)

Sejauh ini belum jelas apakah mereka melarikan diri di Irak atau dibebaskan dan PBB menolak memberikan informasi rinci dengan alasan tidak ingin mengganggu upaya-upaya pembebasan di masa depan.

Ke-36 korban selamat itu meliputi laki-laki, perempuan dan anak-anak dan mereka diperbudak oleh ISIS, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.

Di pos-pos PBB di Dohuk, mereka dipertemukan dengan anggota keluarga dan diurus seluruh keperluannya termasuk pakaian dan bantuan psikologi. Dikatakan bahwa korban perempuan dan anak-anak perempuan memerlukan bantuan khusus.

Koordinator kemanusiaan dari Badan Kependudukan PBB (UNFP) di Irak, Lise Grande, mengatakan PBB berusaha melakukan "apa saja yang mungkin" untuk membantu orang-orang Yazidi.

"Apa yang dialami para perempuan dan anak-anak perempuan ini tak bisa dibayangkan," tuturnya.

ISIS telah membunuh dan memperbudak ribuan orang Yazidi setelah menguasai kota Sinjar pada 2014.

Hak atas foto SAFIN HAMED/AFP
Image caption Dua warga Irak merayakan Tahun Baru Yazidi pada tanggal 19 April 2017 di kota Bashiqa.

Pasukan Kurdi, Peshmerga, merebut kembali kota itu pada 2015 tetapi banyak orang Yazidi disekap oleh ISIS di tempat-tempat lain karena kelompok itu sudah menguasai wilayah yang luas di Irak utara.

PBB telah menuduh ISIS melakukan genosida terhadap kelompok minoritas Yazidi. Kelompok yang menamakan diri Negara Islam itu diperkirakan masih menyekap 1.500 perempuan dan anak-anak-anak perempuan Yazidi. Mereka mungkin mengalami kekerasan seksual berlarut-larut.

Yazidi pada umumnya tidak menganut agama Islam dan bukan etnik Arab. Mereka mempunyai keyakinan tradisional sendiri, yang dianggap hina oleh para milisi ISIS.

Kelompok minoritas ini berbahasa Kurdi dan sebagian besar tinggal di kawasan Pegunungan Sinjar di Irak utara.

Topik terkait

Berita terkait