Baju dianggap 'menggoda' pecatur remaja dilarang mengikuti pertandingan

Atlit catur Hak atas foto FACEBOOK / KAUSHAL KHANDHAR
Image caption Pelatih catur mengatakan bahwa anak didiknya mengenakan rok di atas lutut khas anak remaja.

Para politisi di Malaysia mendesak penyelenggara turnamen catur untuk menjelaskan apa yang terjadi pada pecatur remaja berusia 12 tahun yang diduga dilarang mengikuti turnamen karena pakaian yang dikenakannya.

Sang pelatih catur mengungkapkan bahwa seorang panitia menyebut rok di atas lutut yang dipakai anak didiknya 'terlalu menggoda.'

Unggahan Facebook yang merinci peristiwa tersebut beredar luas dan menyebabkan kemarahan.

Federasi Catur Malaysia mengungkapkan kepada media setempat bahwa tuduhan tersebut tengah diselidiki.

Remaja putri tersebut turut serta dalam Kejuaraan Catur Nasional Skolastik bulan lalu di Putrajaya, kota yang terletak di sebelah selatan ibu kota Kuala Lumpur.

Usai kejuaraan catur, pelatihnya, Kaushal Khandhar, mengunggah tulisan panjang di Facebook yang menyebutkan seorang wasit menyela pertandingan untuk mengatakan bahwa ia melanggar tata cara berpakaian dalam pertandingan catur.

"Direktur turnamen menganggap pakaian yang dikenakan anak didik saya 'menggoda' dan 'godaan dari sudut tertentu yang jauh, jauh sekali'," katanya.

Khandhar awalnya menyampaikan kemarahannya lewat surat terbuka kepada komunitas catur Malaysia, namun kabar tersebut ternyata langsung menyebar ke seluruh negeri dan seluruh dunia.

Zuraida Kamaruddin, anggota parlemen dari Partai Keadilan Nasional, mengkritik panitia penyelenggara karena tidak membuat pernyataan yang tepat sebagai tanggapan, lapor surat kabar Malaysia, The Star.

"Saya sangat gelisah dengan persoalan ini. Saya bisa merasakan andai peristiwa itu terjadi pada anak perempuan saya sendiri," katanya pada hari Senin.

Khandhar juga mengunggah foto pakaian yang dikenakan gadis remaja itu, tapi tidak menunjukkan wajahnya, karena menurutnya anak didiknya 'sangat terganggu, dan malu.'

Ia mengatakan bahwa anak didiknya diberi kesempatan untuk membeli celana agar bisa bertanding keesokan harinya, namun toko-toko sudah tutup saat itu, jadi ia terpaksa menarik diri dari turnamen tersebut.

Datuk Heng Seai Kie, seorang penasihat dari Departemen Persatuan dan Integrasi Nasional, mengatakan kepada harian The Star bahwa panitia semestinya tidak bertindak sebagai 'polisi moral' dengan mengatur pada gadis muda tentang pakaian yang harus dikenakan.

"Bermain catur tidak ada hubungannya dengan berpakaian, karena ini adalah aktivitas yang sehat, dan dari foto itu, ia berpakaian sopan," katanya.

Pedoman yang dikeluarkan Federasi Catur Dunia menyebutkan para pemain harus mematuhi 'standar tinggi tata cara berpakaian,' namun tidak menjelaskan secara rinci seperti apa kode etik berpakaian dalam pertandingan tersebut.

Khandhar memberikan tenggang waktu kepada direktur turnamen untuk meminta maaf di depan publik sampai dengan hari Selasa (2/5) ini, atau, kalau tidak ia akan mengajukan tuntutan hukum.

Topik terkait

Berita terkait