ISIS tengah mengembangkan sendiri platform media sosial

Telepon genggam Hak atas foto Getty Images
Image caption ISIS membuat sendiri saluran media sosial setelah keberadaan mereka di kanal-kanal utama makin dibatasi atau mengalami pemblokiran.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) tengah mengembangkan platform media sosial versi mereka sendiri.

Hal ini disampaikan direktur badan penegak hukum Uni Eropa (Europol), Rob Wainwright, dalam konferensi keamanan di London, Inggris, Rabu (03/05).

Wainwright menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan setelah polisi, badan-badan intelejen, dan perusahaan teknologi melakukan upaya terkoordinasi untuk menutup keberadaan dan ruang gerak ISIS di platform media sosial arus utama dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengungkapkan bahwa platform daring tersebut ditemukan dalam operasi terhadap ISIS dan al-Qaida pekan lalu.

"Dalam operasi ini ditemukan bahwa ISIS mengembangkan sendiri sosial media, sebagai bagian dari agenda internet mereka. Ini menunjukkan bahwa ISIS terus melakukan inovasi," kata Wainwright.

Soal apakah aparat keamanan dengan mudah mengakses atau menutup media sosial yang dikembangkan ISIS, Wainwright mengatakan belum tahu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pejabat keamanan belum bisa memastikan akses atau kontrol terhadap media sosial yang disiapkan oleh ISIS.

Operasi Europol melibatkan aparat keamanan dari Amerika Serikat, Belgia, Yunani, Polandia dan Portugal. Lebih dari 2.000 bahan ekstremis ditemukan di 52 platform media sosial.

ISIS sering menggunakan pada platform media sosial arus utama dan komunikasi daring untuk menyebarkan propaganda dan sejak tahun lalu sangat aktif memanfaatkan aplikasi layanan pesan Telegram.

Tekanan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, Twitter, dan Google (pemilik YouTube) makin besar akhir-akhir ini karena dianggap sangat lamban mencabut materi ekstrem.

Mekanisme yang menggantungkan pengguna untuk melaporkan konten-konten yang tidak pantas atau melanggar hukum dinilai sama sekali tidak memadai.

Eropa, menurut Wainwright, tengah menghadapi ancaman teror terbesar dalam satu generasi.

Topik terkait

Berita terkait