Ibu yang membunuh delapan anak 'tidak akan diadili'

Ibu bunuh anak Hak atas foto Getty Images
Image caption Para petugas kepolisian di tempat kejadian pembunuhan terhadap delapan anak itu.

Seorang perempuan asal Australia yang membunuh dengan cara menusuk delapan anak di rumahnya tidak akan diadili karena ia dalam keadaan 'tidak waras' pada saat itu.

Raina Thaiday mengidap sebuah kondisi yang disebut episode psikotik saat membunuh keempat putranya, tiga anak perempuan dan seorang keponakan perempuannya di Cairns pada bulan Desember 2014.

Kepastian hukum - yang ditetapkan bulan lalu, namun baru sekarang dipublikasikan - menyatakan bahwa ia tidak dapat ditahan atas tindak pidana.

Thaiday, 40 tahun, kini masih ditahan di sebuah penjara berkeamanan tinggi di Brisbane.

Tidak diketahui jelas apakah ia akan dilepaskan kembali untuk berbaur dengan masyarakat.

Rumah tempat anak-anak berusia antara dua dan 14 tahun yang dibunuh sudah dihancurkan. Tempat tersebut telah berganti menjadi tugu peringatan untuk mengenang Malili, Angelina, Shantae, Rayden, Azariah, Daniel, Rodney dan Patrenella.

'Gangguan mental kronis'

Thaiday, yang juga dikenal dengan nama Mersane Warria ini, didakwa telah melakukan pembunuhan terhadap anak-anak tersebut, namun Pengadilan Kesehatan Mental di Queensland memutuskan bahwa ia tidak seharusnya diadili.

Para ahli mengatakan sebelum pembunuhan itu terjadi, ia tidak pernah dirawat terkait gangguan mental yang diidapnya.

Beberapa psikiater memberikan kesaksian bahwa kemungkinan keadaan mental Thaiday sudah memburuk selama berbulan-bulan sebelum pembunuhan terjadi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Peristiwa pembunuhan tersebut mengejutkan warga di kota Cairns.
Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pelayat menjejali prosesi pemakaman kedelapan anak tersebut.

Thaiday meyakini bahwa dirinya menjadi seseorang 'Yang Terpilih' dan terobsesi dengan ritual penyucian untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari setan.

Menurut psikiater, Thaiday merasa ada 'bisikan dari burung merpati' yang mengirimkan pesan di luar nalar.

Psikiater forensik Dr Jane Phillips mengungkapkan dalam sidang pengadilan: "Ia mendengar kicau seekor burung dan percaya bahwa pesan yang ia dengar merupakan perintah untuk membunuh anak-anak guna menyelamatkan mereka."

'Tidak waras'

Jenazah kedelapan anak tersebut ditemukan oleh putra Thaiday, Lewis Warria. Ia juga menemukan sang ibu di depan rumahnya yang sudah menyayat dirinya dengan 35 luka tusukan .

Hakim Jean Dalton mengatakan ada bukti yang meyakinkan bahwa Thaiday tidak bisa mengendalikan atau memahami tindakannya.

"Thaiday mengidap gangguan mental yang membuatnya kehilangan kapasitas saat pembunuhan itu terjadi," kata Hakim Dalton.

Topik terkait

Berita terkait