Mengapa Venezuela diguncang demonstrasi dalam satu bulan ini?

Pemrotes di Venezuela Hak atas foto EPA
Image caption Oposisi dan pendukungnya antara lain mendesak pemerintah menggelar pemilihan umum tahun ini.

Aksi protes besar-besaran di berbagai kota di Venezuela telah berlangsung selama satu bulan dan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Dalam beberapa kejadian, aksi diwarnai kekerasan dan memakan korban. Hingga akhir April, korban tewas dalam berbagai unjuk rasa telah mencapai 30 orang.

Apa pemicu krisis? Apa jalan keluar yang ditawarkan pemerintah?

Berikut empat pertanyaan yang mungkin Anda ajukan untuk memahami krisis di negara tersebut:

1. Apa sebenarnya pemicu krisis?

Venezuela bisa dikatakan terbelah menjadi dua kubu: kubu yang pro dengan kebijakan almarhum Hugo Chavez dan kubu yang menentang kebijkannya.

Chavev adalah pemimpin partai sosialis PSUV yang meninggal dunia pada 2013. Ia digantikan oleh politisi PSUV lain, Nicolas Maduro, yang berjanji melanjutkan berbagai kebijakan Chavez.

Chavez dan Maduro dipuji karena memanfaatkan penerimaan negara dari minyak untuk mengatasi kesenjangan sosial dan mengentaskan warga dari kemiskinan. Tapi oposisi mengatakan, sejak PSUV berkuasa pada 1999, institusi demokrasi melemah dan penataan perekonomian tak berjalan efektif.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Maduro mengusulkan penyusunan konstitusi baru untuk mengatasi krisis nasional di negaranya.

Menanggapi kritik ini, pendukung kebijakan Chavez menuduh oposisi sebagai kelompok elite dan mengeksploitasi warga miskin demi tujuan mereka sendiri. Pemimpin oposisi juga dituduh dibayar oleh Amerika Serikat.

Ketegangan antara pemerintah dan oposisi meningkat ketika secara mengejutkan Mahkamah Agung (MA) pada 29 Maret mengumumkan pengambilaihan kewenangan Majelis Nasional, lembaga negara yang dikuasi politisi oposisi.

Oposisi menggambarkan keputusan MA sebagai pelemahan sistem pemisahan kekuasaan dan bentuk dukungan terhadap kekuasaan Venezuela di bawah kuasa Maduro.

Keputusan ini dibatalkan tiga hari kemudian, namun ketidakpercayaan terhadap MA tak mereda.

Kemarahan pendukung oposisi bertambah pada 7 April setelah pemimpin mereka, Henrique Capriles, dilarang menduduki jabatan publik selama 15 tahun.

Capriles adalah salah satu politisi oposisi paling berpengalaman dan ikut bertarung di pemilihan presiden pada 2013 namun kalah tipis dari Maduro.

2. Apa yang diinginkan oposisi?

Oposisi dan para pendukung mereka mendesakkan setidaknya empat tuntutan.

Yang pertama, pemecatan semua hakim di Mahkamah Agung yang mengeluarkan keputusan 29 Maret yang mengambil kewenangan Majelis Nasional.

Hak atas foto Reuters
Image caption Oposisi mengajukan beberapa tuntutan, dari pemilu, penyaluran obat hingga pembebasan tahanan politik.

Kedua, mereka menginginkan pelaksaan pemilihan umum pada 2017.

Ketiga, pembentukan yang disebut sebagai 'saluran kemanusiaan' yang memungkinkan penyaluran obat dan peralatan medis yang sangat diperlukan di Venezuela.

Dan yang keempat, mereka ingin semua tahanan politik dibebaskan.

3. Mengapa kemarahan diarahkan ke Presiden Maduro?

Banyak yang mengatakan Presiden Maduro tak sekarismatik pendahulunya, Hugo Chavez. Pemerintah yang ia pimpin juga menghadapi masalah yang diakibatkan oleh turunnya harga minyak.

Sekitar 95% penerimaan negara berasal dari minyak dan selama ini penerimaan tersebut digunakan untuk membiayai program-program sosial.

Dari minyak pula pemerintah membangun lebih dari satu juta rumah untuk warga miskin.

Turunnya penerimaan dari minyak memaksa Presiden Maduro harus memangkas sejumlah program sosial, yang pada gilirannya menggerus dukungan dari kelompok-kelompok yang selama ini setia berdiri di belakang pemerintah.

4. Apa solusi yang ditawarkan pemerintah?

Hak atas foto Reuters
Image caption Selain aksi unjuk rasa oleh oposisi, digelar pula demonstrasi mendukung pemerintah, seperti yang terjadi di Caracas pada 3 Mei ini.

Salah satu yang diusulkan Presiden Maduro untuk mengatasi krisis adalah penyusunan konstitusi yang baru.

Menurut Maduro, konstitusi diperlukan untuk 'memulihkan ketenangan' dan 'mencegah kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah melancarkan kudeta'.

Oposisi menuduh Maduro berupaya mempertahankan kekuasaan, dengan alasan penyusunan konstitusi baru 'dipastikan akan menunda pemilihan wilayah tahun ini dan pemilihan presiden yang rencananya akan digelar pada Desember 2018.

Mereka juga khawatir, dewan konstituante yang diberi wewenang menyusun konstitusi baru akan melemahkan Dewan Nasional, lembaga perwakilan yang mereka kuasai.

Ketua Dewan Nasional, Julio Borges, menyebut langkah presiden sebagai 'penipuan terhadap rakyat untuk melanggenggkan kekuasaan pemerintah'.

Topik terkait