Kandidat Presiden Prancis Macron mengecam 'serangan peretas yang masif'

Emmanuel Macron Hak atas foto Reuters
Image caption Masa kampanye pilpres Prancis telah berakhir.

Tim kampanye kandidat presiden Emmanuel Macron mengatakan menjadi target "serangan peretas yang masif" setelah sejumlah dokumen dirilis secara online.

Tim kampanye mengatakan bahwa dokumen yang asli bercampur dengan dokumen palsu dengan tujuan untuk membingungkan orang.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa bocoran dokumen itu dengan jelas menunjukkan para paretas bertujuan untuk mengerogoti suara Macron jelang pilpres putaran kedua pada Minggu (07/05).

Macron dari aliran politik kanan tengah akan menghadapi kandidat dari ekstrem kanan Marine Le Pen.

Dokumen yang dibocorkan dalam situs berbagi dokumen pada Jumat malam, jelang penutupan masa kampanye.

Tim Macron mengecam bocoran dokumen beberapa menit sebelum batas waktu tengah malam.

Setelah penutupan masa kampanye, para kandidat dan media menghadapi pembatasan pemberitaan terkait pilpres, sampai pemungutan suara selesai pada Minggi (08/05) malam, artinya Macron tidak dapat menyampaikan pernyataan apapun.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa mantan menteri ekonomi ini memimpin 20% poin atau lebih dari Le Pen.

Hak atas foto AFP/EPA
Image caption Marine Le Pen (kiri) dan Emmanuel Macron (kanan)

Sekitar sembilan gigabyte data diunggah secara online oleh pengguna anonim. Rincian dokumen sejauh ini belum jelas, tetapi gerakan En Marche Macron mengatakan dokumen kampanye internal, termausk surat elektronik dan data finansial, telah diambil dalam sebuah "tindakan masif, peretasan yang terkoordinasi".

Pelaku pembocoran dokumen juga belum jelas. Tim Macron belum mengeluarkan pernyataan yang menuduh pihak tertentu tetapi mengatakan peretasan itu jelas bertujuan untuk membahayakan dan merusak demokrasi di Prancis.

Situasi itu dibandingkan dengan pembocoran surat Partai Demokrat pada pemilihan presiden AS tahun lalu yang kemudian menuduh peretas Rusia sebagai pelakunya.

Wikileaks, yang mempublikasikan surat-surat elektronik tersebut, mengunggah sebuah tautan pada dokumen Macron pada Twitter tetapi menyebutkan tidak bertanggung jawab atas isinya.

Bulan lalu, pakar keamanan dari perusahaan Trend Micro mengatakan peretas Rusia menargetkan kampanye Macron.

Rusia telah membantah berada dibalik serangan terhadap Macron.

Berita terkait