Rakyat Prancis memilih Macron atau Le Pen?

pemilu prancis Hak atas foto Reuters
Image caption Memilih Macron yang liberal atau Le Pen yang ekstrem kanan?

Warga Prancis akan memilih presiden mereka berikutnya dalam pemilu yang sulit dprediksi dan telah membuat masyarakat negara itu terbelah.

Pemilu presiden putaran kedua ini diwarnai pertarungan ketat dua calon yaitu seorang bankir Emmanuel Macron, 39 tahun, dan politisi sayap kanan, Le Pen, 48 tahun.

Sejauh ini warga negara Prancis di luar wilayah negara itu serta ekspatriat Prancis di luar negeri telah mulai memberikan suaranya.

Jajak pendapat mulai dibuka di Prancis sekitar pukul 08:00 waktu setempat pada hari Minggu (08/05) dan ditutup pada pukul 19:00 waktu setempat.

Tempat pemungutan suara, TPS, akan tetap dibuka di beberapa kota besar sampai pukul 20:00 waktu setempat.

Dua kandidat capres, yang mengalahkan calon-calon lainnya di putaran pertama 23 April lalu, telah menyodorkan visi yang sangat berbeda.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga negara Prancis di luar wilayah negara itu serta ekspatriat Prancis di luar negeri telah mulai memberikan suaranya.

Macron dari aliran politik kanan tengah, liberal, pro-bisnis dan pendukung kuat Uni Eropa, sementara kandidat dari ekstrem kanan Marine Le Pen mengkampanyekan dalam program anti-imigran.

Le Pen ingin Prancis meninggalkan Uni Eropa dengan alasan untuk memperkuat ekonomi domestik dan berjanji akan menggelar referendum tentang keanggotaannya di Uni Eropa.

Macron diperkirakan akan memenangkan pemungutan suara, namun para analis mengatakan tingkat abstain yang tinggi akan dapat merusak peluangnya.

Pemilik hak suara yang diperkirakan akan abstain adalah orang-orang yang menolak dua calon ini - yang dianggap representasi kelompok sosialis dan republik - karena dianggap telah lama menguasai kepemimpinan negara itu.

Di akhir masa kampanye, tim kampanye kandidat presiden Emmanuel Macron mengklaim menjadi target "serangan peretas yang masif" setelah sejumlah dokumen dirilis secara online.

Hak atas foto AFP/EPA
Image caption Marine Le Pen (kiri) dan Emmanuel Macron (kanan)

Tim kampanye mengatakan bahwa dokumen yang asli bercampur dengan dokumen palsu dengan tujuan untuk membingungkan orang.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa bocoran dokumen itu dengan jelas menunjukkan para paretas bertujuan untuk mengerogoti suara Macron jelang pilpres putaran kedua pada Minggu (07/05).

Mereka kemudian membandingkan serangan peretas ini dengan kasus bocornya email Partai Demokrat dalam pemilihan presiden AS tahun lalu dengan sasaran tuduhan kepada peretas Rusia.

Macron sebelumnya menuduh Moskow menargetkan dirinya dalam serangan peretas, yang kemudian dengan tegas ditolak oleh Rusia.

Pada Sabtu, Presiden Prancis Fran├žois Hollande berjanji untuk "menanggapi" kasus serangan peretas tersebut.

Berita terkait