Bagaimana Macron hanya butuh satu tahun untuk jadi presiden Prancis?

Macron Hak atas foto Getty Images
Image caption Di usia yang baru 39 tahun, Emmanuel Macron akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Prancis.

Emmanuel Macron memenangkan pemilihan presiden Prancis, hari Minggu (07/05), setelah di putaran kedua pemungutan suara menyingkirkan Marine Le Pen.

Proyeksi penghitungan suara memperlihatkan Macron, politisi tengah pro-Eropa, meraih sekitar 65% suara, sementara calon dari kanan jauh, Le Pen, meraih kurang lebih 35% suara.

Dalam pidato kemenangan, Macron mengatakan halaman baru tengah dimulai dalam sejarah Prancis.

"Saya ingin ini menjadi halaman tentang harapan dan rasa saling percaya," katanya.

Pada usia 39 tahun, Macron akan menjadi presiden Prancis termuda dalam sejarah.

Yang juga menarik dalam pilpres kali ini adalah untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, presiden terpilih bukan berasal dari dua partai utama, Sosialis dan Republik yang berhaluan kanan tengah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Macron mundur dari Partai Sosialis dan mendirikan gerakan rakyat, En Marche!.

Macron sendiri sebenarnya bukan wajah yang sama sekali baru di panggung politik Prancis.

Ia pernah menjadi menteri ekonomi Presiden Francois Hollande, politisi Partai Sosialis. Fakta ini, menurut pengamat politik Francois Raillon, bermakna bahwa Macron juga adalah bagian dari kelompok mapan (establishment).

Pada April 2016 ia mendirikan En Marche!, gerakan berhaluan tengah yang ia gunakan sebagai kendaraan politik di pemilihan presiden.

Wartawan BBC, Becky Branford, mengatakan bisa saja Macron maju di pilpres dengan tiket dari Partai Sosialis, namun ia sadar betul bahwa dengan popularitas partai yang menurun, ia perlu kendaraan lain yang segar, yang bisa dirasakan secara langsung oleh rakyat.

Di Eropa, ini bukan gejala baru. Ada gerakan serupa yang telah dibentuk sebelumnya di Italia dan Spanyol. Dan beberapa bulan setelah mendirikan En Marche!, Macron menyatakan mundur dari Partai Sosialis.

Mirip 'gerakan Obama'

Gerakan ini pada saat yang sama memungkinan Macron untuk memposisikan diri sebagai tokoh yang dekat dengan akar rumput, mirip dengan apa yang dilakukan Barack Obama ketika terjun di pilpres Amerika Serikat pada 2008, kata wartawan lepas di Paris, Emily Schultheis.

Model pendekatan ini antara lain memanfaatkan kerja relawan di lapangan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Proyeksi suara memperlihatkan, calon kanan jauh Marine Le Pen hanya mendapatkan sekitar 35% suara.

Di sisi lain, keberhasilannya menang di pilpres, kata Raillon, tak lepas dari apa yang ia sebut sebagai 'keinginan sebagian besar rakyat untuk membersihkan ruang politik dari tokoh-tokoh lama, yang tua, dan tradisional'.

"Macron bukan 100% orang baru, tapi di usia yang masih sangat muda, 39 tahun, ia dianggap sebagai tokoh yang menyegarkan dibandingkan semua politisi lain (yang ikut serta dalam pemilihan presiden)," kata Raillon kepada BBC Indonesia.

Di kalangan pemilih ia dianggap sebagai figur yang paling bisa diterima, sementara yang lain ditolak termasuk Marine Le Pen, anak perempuan politisi kanan jauh, Jean-Marie Le Pen.

Raillon mengatakan di pundak Macron ditumpukan harapan besar agar di Prancis dilakukan perbaikan di berbagai bidang, perbedaan di kalangan rakyat disatukan lagi dan ada dinamika baru di bidang ekonomi.

Kemenangan Macron disambut hangat, tak hanya di dalam tapi juga di luar negeri.

Juru bicara kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa kemenangan Macron adalah juga kemenangan bari Eropa yang kuat dan bersatu.

Kepala Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, menyampaikan pernyataan senada.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengucapkan selamat dan siap bekerja sama di berbagai bidang.

Hak atas foto Reuters
Image caption Macron mengusung platform berhaluan tengah yang probisnis dan pro-Uni Eropa.

Ucapan selamat juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengirim ucapan melaui Twitter.

Topik terkait

Berita terkait