Korupsi dan Korea Utara warnai pilpres Korea Selatan

Moon Jae-in (kiri) dan Ahn Cheol-soo Hak atas foto Getty Images
Image caption Moon Jae-in (kiri) dan Ahn Cheol-soo adalah dua kandidat utama pilpres Korea Selatan.

Para pemilih Korea Selatan pada Selasa (09/05) ini akan memilih presiden baru, beberapa bulan sebelum jadwal semula menyusul skandal korupsi yang menimpa mantan Presiden Park Geun-hye.

Pencoblosan digelar di tengah ketegangan dengan negara tetangga, Korea Utara, pengangguran di kalangan angkatan muda, dan kemarahan di kalangan pemilih terkait korupsi.

Calon liberal, Moon Jae-in, seorang pengacara yang sejauh ini mendominasi berbagai jajak pendapat dan calon yang diunggulkan.

Dua saingan terkuatnya, Ahn Cheol-soo, miliarder dari industri teknologi informasi dan berhaluan kiri tengah, serta Hong Joon-pyo, calon dari partai berkuasa.

Jumlah warga yang menggunakan suara mereka dalam pemilihan awal pekan lalu tercatat tertinggi sejauh ini dan jumlah pemilih yang menggunakan hak mereka di hari pencoblosan di perkirakan besar.

Mengapa warga antusias?

Korea Selatan masih terguncang akibat skandal uang untuk mendapatkan pengaruh yang menerpa mantan Presiden Park Geun-hye, yang masih menunggu proses persidangan setelah dimakzulkan.

Massa sebelumnya menggelar demonstrasi menentang presiden perempuan itu di tengah kemarahan tentang ketimpangan dan anggapan bahwa kalangan elite Korea Selatan menikmati kemewahan. Selama gelombang protes berbulan-bulan, para pemilih golongan tua turut turun ke jalan mendukung Park, namun kehadiran mereka menunjukkan jurang generasi di negara itu.

Siapa pun yang memenangi pemilihan presiden, sosok tersebut harus menyatukan kembali masyarakat dan menangani masalah ekonomi dan mobilitas sosial, yang menjadi dorongan bagi pemilih muda untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Tahun lalu, pengangguran di kalangan muda tercatat 9,8% yang sekaligus menekankan berbagai tantangan lapangan kerja bagi angkatan muda.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Presiden Korsel mendatang harus mampu menjalin hubungan baik dengan Presiden Cina, Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump.

Sementara itu, Korea Utara tetap menjadi tantangan yang mendesak. Pyongyang meningkatkan frekuensi uji coba rudal selama beberapa bulan belakangan dan banyak kalangan menduga Korea Utara akan melakukan uji coba nuklir keenam dalam waktu dekat.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menempuh pendekatan keras sehingga sekarang tercatat sebagai waktu yang paling menegangkan selama tahun-tahun terakhir.

Siapa saja calon presiden Korea Selatan?

Moon Jae-in, sosok liberal dari Partai Demokrat adalah calon yang diunggulkan di antara para saingannya. Menjadi asisten pada masa pemerintahan mantan Presiden Roh Moo-hyun, ia kembali mencoba peruntungannya setelah kalah dari Park Geun-hye pada 2012.

Sebagai aktivis mahasiswa, ia pernah dikeluarkan dari Fakultas Hukum pada 1970-an setelah memimpin demonstrasi menentang ayah Park Geun-hye, presiden yang memerintah secara tegas, Park Chung-Hee.

Setelah memenuhi kualifikasi, ia bekerja sebagai pengacara HAM selama bertahun-tahun sebelum terjun ke dunia polik ketika Roh dipilih menjadi presiden.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah pemilih yang mencoblos dalam pemilihan awal digelar pada 3-5 Mei mencapai rekor.

Mengenai urusan domestik, ia berjanji akan menangani konglomerasi besar, yang dijalankan sebagai bisnis keluarga, yang selama ini dianggap tidak tersentuh oleh hukum dan memiliki hubungan yang nyaman dengan pemerintah.

Dalam masalah Korea Utara, Moon Jae-in menyerukan visi baru untuk mewujudkan perdamaian, yang mungkin mencakup pelibatan ekonomi walau para kritikus selama ini mengatakan pelibatan ekonomi justru dimanfaatkan untuk mendanai program nuklir Korut.

Saingan paling kuat Moon adalah Ahn Cheol-soo, taipan peranti lunak dan salah satu pendiri partai kiri tengah, Partai Rakyat.

Dijuluki 'Bill Gates dari Korea', Ahn mencitrakan dirinya sebagai orang yang berada di luar lingkaran korupsi yang sudah merajalela di dunia politik.

Ia menyebut dirinya sebagai orang 'konservatif dalam masalah keamanan dan proreformasi dalam urusan ekonomi'.

Mengenai Korea Utara, Ahn menyuarakan tekanan dan dialog dengan Pyongyang untuk mau berunding.

Pada awalnya ia menentang kehadiran sistem pertahanan rudal Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat di Korea Selatan tetapi belakangan mengatakan akan menghormati perjanjian antarnegara.

Kandidat ketiga yang pelan-pelan mendapat popularitas adalah Hong Joon-pyo dari Partai Kebebasan Korea, yang merupakan partai asal Park Geun-hye yang sebelumnya dikenal dengan nama Partai Saenuri .

Menurut calon ketiga ini, keamanan adalah prioritas utamanya.

Apa saja tantanganya?

Meskipun masalah Korea Utara mendominasi pembicaraan di panggul internasional, bagi warga Korea Selatan masalah yang penting adalah isu-isu dalam negeri, termasuk lapangan kerja, transparansi, tata kelola pemerintahan. Mereka berharap pemimpin baru akan membawa perubahan cepat.

Berdasarkan hasil survei RealMeter, sekitar 27,5% mengatakan masalah utama bagi mereka adalah keinginan calon presiden untuk menyelesaikan masalah-masalah korupsi, diikuti dengan masalah ekonomi dan mata pencaharian sebear 24,5%, serta keamanan nasional 18,5%.

Hak atas foto KCNA
Image caption Korea Utara mengancam akan meningkatkan kemampuan nuklir dan rudal balistiknya.

Namun banyak pemerhati mengatakan kandidat-kandidat utama belum membeberkan kebijakan yang rinci.

Dalam masalah Korea Utara, presiden baru harus puas dengan pemimpin Korea Utara yang bertekad mengembangkan senjata nuklir, pemerintahan AS yang telah mengisyaratkan bahwa aksi militer tidak dikesampingkan jika ketegangan memburuk dan kemungkinan rakyat Korea Selatan terjebak dalam baku tembak.

Menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika -sekutu Seoul- semakin rumit karena Cina bersikap marah terhadap penempatan THAAD di Korea Selatan.

Seoul dan Washington mengatakan sistem itu ditujukan untuk mengantisipasi serangan dari Korea Utara, tetapi Beijing berpendapat sistem rudal tersebut merongrong keamanannya sendiri dan sejauh ini Beijing memulai sejumlah sanksi ekonomi informal atas Korea Selatan.

Topik terkait

Berita terkait