Apakah komputer saya berisiko terpapar virus Wannacry?

virus Hak atas foto PA
Image caption Sejumlah pakar teknologi informasi menyarankan khalayak untuk memutakhirkan sistem operasional Windows.

Sejumlah pakar teknologi informasi memperingatkan bahwa ancaman serangan virus ransomware Wannacry masih mengintai dan amat mungkin terjadi lagi dalam waktu dekat. Lalu bagaimana cara khalayak melindungi komputer mereka?

Seberapa luas serangan Wannacry?

Ransomware, virus yang mengunci semua berkas komputer dan baru bisa dibuka setelah uang tebusan dibayar, bukanlah hal baru dalam teknologi informasi. Namun, serangan sedahsyat virus Wannacry belum pernah terjadi sebelumnya, menurut badan kepolisian Eropa atau Europol.

Pada Minggu (14/05), Europol memperkirakan ada lebih dari 200.000 korban virus Wannacry yang tersebar di 150 negara. Namun, jumlah itu boleh jadi meningkat setelah khalayak dunia menghidupkan komputer mereka pada Senin (15/05) dan belum memutakhirkan sistem keamanan mereka.

Selain virus Wannacry, sejumlah pakar teknologi informasi mengatakan ada varian ransomware lainnya yang amat mungkin dihidupkan kembali selagi serangan berlangsung.

Bagi para pelaku peretasan, virus itu menambah tebal kocek mereka. Melalui penelusuran BBC terhadap tiga akun peretas, dana tebusan yang terkumpul dalam mata uang virtual Bitcoin mencapai US$30.000 jika ditukarkan.

Hak atas foto EPA
Image caption Serangan virus Wannacry terjadi di Taipei, Taiwan, pada 13 Mei 2017.

Apakah komputer saya berisiko terpapar virus Wannacry?

Virus Wannacry hanya berdampak pada komputer yang memiliki sistem operasional Windows. Jika seseorang tidak memutakhirkan Windows dan tidak berhati-hati saat membuka dan membaca email, risiko tertular virus semakin besar.

Untuk meminimalisasi risiko, Anda dapat memutakhirkan sistem operasional, menggunakan firewall, memperbarui peranti anti-virus, dan bersikap waspada saat menerima pesan email.

Pada saat bersamaan, Anda sebaiknya menduplikasi data dan menyimpannya di tempat lain. Dengan cara ini, Anda tak perlu membayar uang tebusan jika terpapar virus. Apalagi, tidak ada jaminan bahwa data Anda akan dikembalikan jika Anda membayar tebusan.

Sejauh ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah merilis langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menangkal serangan virus Wannacry.

Image caption Negara-negara yang mengalami serangan siber pada Jumat (12/05).

Bagaimana serangan bisa menyebar cepat?

Virus Wannacry tampaknya menyebar ke berbagai jaringan komputer secara otomatis. Hal ini jelas berbeda dengan kebanyakan virus lainnya yang menyebar secara manual dengan mengandalkan tipuan sehingga pengguna komputer mengklik tautan pada email.

Begitu Wannacry menembus jaringan komputer, virus itu akan memburu jaringan lainnya yang rentan. Ini sebabnya virus tersebut dapat menyebar secara cepat.

Mengapa khalayak rentan pada serangan?

Pada Maret lalu, Microsoft merilis pemutakhiran gratis untuk menambal kelemahan yang diincar ransomware. Namun, badan intelijen Amerika Serikat ternyata menemukan kelemahan lainnya dan menyimpan informasi itu dalam sistem komputer mereka.

Informasi itu belakangan bocor dan dimanfaatkan oleh para peretas. Saat kebocoran terjadi, sejumlah pakar teknologi informasi memprediksi peretas akan menciptakan virus ransomware, dan mereka benar.

Awalnya, para pakar menduga kebanyakan korban memakai sistem operasional Windows XP yang tak lagi disokong Microsoft. Akan tetapi, Alan Woodward selaku pakar keamanan siber memperlihatkan statistik terkini yang menunjukkan pengguna Windows XP sejatinya sangat kecil.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Pemerintah Indonesia memastikan bahwa Indonesia merupakan salah-satu negara yang terdampak akibat serangan yang disebut sebagai 'teroris siber'.

Siapa dalang di balik serangan?

Sampai saat ini pelakunya belum diketahui. Namun, beberapa pakar mengatakan ransomware yang diciptakan tidak secanggih yang dikira. Serangan siber pada Jumat (12/05) berhenti ketika seorang pakar keamanan siber membeli sebuah domain internet guna melacak penyebaran virus, namun justru menghentikannya secara tak sengaja.

Lepas dari kecanggihannya, ransomware merupakan 'senjata' favorit para pelaku kejahatan siber karena bisa mendapatkan uang dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, namun sulit terlacak

Topik terkait

Berita terkait