Krematorium di penjara Suriah untuk tutupi pembunuhan, tuduh AS

Suriah, Saydnaya, penjara, amnesty international Hak atas foto Amnesty International
Image caption Amnesty International sekitar 5.000 hingga 13.000 orang dieksekusi di penjara Saydnaya dalam waktu lima tahun.

Pemerintah Suriah dituduh membangun krematorium di dalam sebuah penjara militer untuk membuang jenazah para tahanan yang dibunuh.

Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan gambar-gambar satelit yang memperlihatkan fasilitas yang disebut untuk menyembunyikan bukti-bukti.

Kelompok-kelompok pegiat hak asasi mengatakan ribuan orang disiksa dan digantung di dalam penjara militer, yang terletak di pinggiran ibu kota Damaskus.

Suriah tidak menanggapi tuduhan terbaru ini namun sebelumnya membantah tegas penyiksaan di penjara Saydnaya.

Bulan Februari, Amnesty International mengatakan penggantungan tahanan secara massal berlangsung setiap pekan di penjara tersebut pada masa 2011 hingga 2015.

Pemerintah Damaskus pada saat itu membantah pernyataan Amnesty sebagai 'tidak berdasar' dan 'tanpa kebenaran' dengan mengatakan semua eksekusi di Suriah melewati proses hukum.

Hak atas foto Amnesty International
Image caption Laporan Amnesty International pada Februari 2017 didasarkan pada keterangan para saksi mata.

Bagaimanapun muncul tuduhan lagi di penjara Saydnaya pada Senin (15/05)

"Sumber-sumber yang dapat dipercaya yakin bahwa banyak jenazah yang dibuang di kuburan massal," jelas Stuart Jones, Penjabat Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Timur Dekat, kepada para wartawan.

"Kami kini yakin bahwa rezim Suriah membangun sebuah krematorium di kompleks penjara untuk membuang jenazah mereka yang ditahan dengan bukti tidak kuat."

Jones menambahkan bahwa bukti tentang krematorium atau kuburan massal yang tersembunyi itu akan diungkapkan kepada komunitas internasional.

Dokumentasi yang sudah tidak tergolong rahasia lagi, menurut Jones, menggarisbawahi bagaimana dalamnya yang dilakukan rezim Suriah dengan dukungan yang terus berlanjut dari sekutunya, Rusia dan Iran.

Hak atas foto Amnesty International
Image caption Diab Serrih, salah seorang mantan tahanan, yang memberikan kesaksian kepada Amnesty Internasional.

Sementara Amnesty International mengatakan praktek eksekusi di penjara Saydnaya tergolong kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan.

Dalam laporannya pada Februari tahun ini -yang didasarkan pada keterangan para saksi mata- Amnesty memperkirakan 5.000 hingga 13.000 orang dieksekusi di penjara itu dalam waktu lima tahun.

Sekali seminggu, atau bahkan dua kali seminggu, sekitar 20 hingga 50 orang -yang sebagian besar adalah pendiukung kelompok oposisi- dieksekusi secara rahasia, menurut Amnesty.

Dan eksekusi disahkan oleh pemerintahan tingkat tinggi sementara puluhan ribu orang dipenjara sepanjang enam tahun perang saudara yang melanda negara itu.

Topik terkait

Berita terkait