Ratusan orang tewas, lembaga amal khawatirkan wabah kolera di Yaman

yaman Hak atas foto EPA
Image caption Dua anak di Sana'a mendapat perawatan karena mengalami gejala kolera.

Lembaga amal, Save the Children, mengkhawatirkan terjadinya wabah kolera di Yaman setelah hampir 250 orang meninggal dunia akibat penyakit itu bulan ini saja.

Selain ratusan korban meninggal, ratusan kasus yang diduga kolera juga dilaporkan setiap hari.

Jika wabah benar terjadi, Save the Chilren mencemaskan akan ada ribuan orang dapat meninggal dunia begitu saja.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan penyebaran kolera melalui air dan makanan yang tercemar bisa sangat cepat mengingat delapan juta warga Yaman kekurangan akses air bersih dan sanitasi layak.

Hak atas foto EPA
Image caption Sejumlah anak mengumpulkan air minum di Sana'a , Yaman.

Memperparah keadaan, menurut WHO lebih dari 45% fasilitas kesehatan di negara itu tidak berfungsi dan sekitar 300 klinik rusak akibat pertempuran antara pasukan loyalis Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi sokongan Arab Saudi dan gerakan Houthi dukungan Iran.

Sebagai pertolongan sementara, lembaga Dokter Tanpa Perbatasan (Médecins Sans Frontières/MSF) mendirikan pusat-pusat pengobatan kolera di Yaman.

"Sebelum wabah terjadi, sistem kesehatan sudah parah dan kebutuhan kesehatan masyarakat sudah besar," kata Ghassan Abou Chaar, kepala MSF di Yaman.

"Untuk mengendalikan wabah, tidak cukup hanya menangani mereka yang mendatangi fasilitas kesehatan. Kita juga perlu mengatasi sumber penyakit dengan memperbaiki kualitas air dan sanitasi sekaligus bekerja sama dengan komunitas-komunitas demi mencegah kasus baru," tambah Chaar.

Hak atas foto EPA
Image caption MSF mengatakan jumlah pasien yang dirawat akibat kolera bakal tidak mampu ditampung fasilitas kesehatan.

Gejala kolera mencakup diare akut dan muntah. Orang yang mengidap kolera bisa menjadi sangat sakit dan jika tidak segera ditangani dapat meninggal dunia dalam hitungan jam.

Save the Children mengimbau semua pihak bertikai mengakhiri pembatasan bantuan impor sesegera mungkin.

Berdasarkan data PBB, lebih dari 8.000 orang, sebagian besar warga sipil, tewas dan 44.500 lainnya mengalami cedera sejak konflik di Yaman bereskalasi pada Maret 2015.

Perang itu juga mengakibatkan 18,8 juta orang memerlukan bantuan kemanusiaan.

Topik terkait

Berita terkait