Terduga pelaku serangan teror Manchester kelahiran kota itu

Polisi dan masyarakat Hak atas foto PA
Image caption Karangan bunga dan kartu ucapan mengalir di dekat lokasi kejadian.

Kepolisian Inggris telah mengeluarkan nama pria yang mereka yakini sebagai pelaku serangan bom bunuh dalam konser penyanyi pop Ariana Grande di Manchester Arena pada Senin malam (22/05) yang menyebabkan 22 orang meninggal dunia dan melukai 59 orang lainnya.

Ia adalah Salman Abedi, 22, kelahiran Manchester dari keturunan keluarga Libia.

Kepolisian mengatakan prioritas yang ada saat ini adalah menyelidiki apakah Abedi bekerja sendiri atau bekerja dengan jaringan.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) mengeluarkan pernyataan lewat media sosial bahwa salah satu simpatisannya melakukan serangan di Manchester tersebut.

Hak atas foto ANDY RAIN/EPA
Image caption Berbagai ungkapan dukungan diberikan kepada para korban serangan di Manchester Arena.

Pada Selasa malam (23/05) ribuan orang berkumpul di alun-alun Manchester pusat untuk mengikuti doa renungan bagi para korban. Kepala Kepolisian Manchester Ian Hopkins menyerukan kepada warga untuk tidak terpecah belah.

Reaksi dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pihak-pihak yang berada di balik serangan bom bunuh diri di Manchester dan juga serangan-serangan serupa lainnya sebagai "orang-orang yang kalah".

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Trump mengecam serangan di Manchester dalam lawatannya ke Tepi Barat.

"Saya tidak akan memanggil mereka sebagai raksasa karena mereka suka dengan istilah itu. Saya menyebut mereka sebagai orang-orang yang kalah," kata Trump dalam lawatannya ke Tepi Barat, Palestina, pada Selasa (23/05).

Kecaman juga datang dari berbagai pemimpin lain.

Hak atas foto EPA
Image caption Presiden Polandia Andrzej Duda meletakkan karangan bunga di depan Kedubes Inggris di ibu kota Polandia, Warsawa.

Salah satu reaksi yang paling sedih disampaikan oleh Presiden Polandia Andrzej Duda. Dituturkannya Polandia berbela sungkawa dengan keluarga para korban.

Ia meletakkan karangan bunga di depan Kedutaan Inggris di Warsawa ketika muncul berita satu pasang suami istri dari Polandia hilang ketika menjemput putrinya di Manchester.

Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe meminta masyarakat untuk waspada.

"Bentuk terorisme yang paling pengecut kembali menyerang dengan menyasar tempat konser, seperti yang terjadi di Paris lebih dari satu tahun lalu," kata PM Prancis dalam suatu pernyataan ketika merujuk pada serangan yang terjadi di tempat konser musik Bataclan di Paris pada November 2015.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan ia siap meningkatkan kerja sama keamanan dengan Inggris setelah "kejahatan sinis tak manusiawi ini".

Presiden Cina Xi Jinping juga telah menelepon Ratu Elizabeth untuk menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan, "Pada saat sangat sulit ini Inggris dan Cina berdiri bersama".

Topik terkait

Berita terkait