Pangkas dana orang miskin, Trump anggarkan Rp21 triliun untuk tembok Meksiko

trump Hak atas foto Reuters

Gedung Putih mengumumkan usulan anggaran belanja negara Amerika Serikat tahun fiskal 2017, dengan total $4,1 tiliun atau sekitar Rp55.000 triliun. Dalam rencana anggaran itu, pengeluaran untuk layanan sosial bagi orang miskin, dipangkas.

Usulan anggaran itu mencakup budget Ivanka Trump yang akan digunakan untuk menggaji para orang tua yang mengambil cuti kerja.

Militer Amerika akan mendapat tambahan anggaran sebanyak 10%, sementara dana $1,6 miliar akan dialokasikan untuk membangun tembok pembatas dengan Meksiko.

Presiden Amerika, Donald Trump, sedang berada di luar negeri saat Gedung Putih mengumumkan rancangan anggaran penuh pemerintahannya, yang diberi nama 'Fondasi Baru untuk Kejayaan Amerika'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ivanka Trump beserta suaminya, Jared Kushner, sedang dalam lawatan ke luar negeri bersama Donald Trump.

Direktur anggaran Gedung Putih, Mick Mulvaney, Selasa (23/05) menyatakan bahwa usulan anggaran itu 'berdasarkan semua prioritas Presiden.'

Apakah usulan ini pasti diterapkan?

Tidak. Usulan anggaran belanja negara oleh presiden Amerika, pada dasarnya adalah harapan budget dari pemerintah, yang biasanya kecil kemungkinannya untuk diterapkan.

Senat dan DPR Amerika punya rancangan anggaran mereka sendiri, yang akan mereka sahkan untuk kemudian digunakan pemerintah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketua Komite Budget Senat Amerika, Eric Ueland menyerahkan rencana anggaran kepada rekan kerjanya.

Usulan dari Trump ini diharapkan menjadi acuan bagi Kongres Amerika yang didominasi oleh orang-orang Partai Republik.

Siapa yang terdampak?

Sejumlah kritik menyebutkan rancangan anggaran Trump akan memukul pendukung Trump sendiri.

Di dalam rencana itu, layanan bantuan makanan bagi orang ekonomi rendah dan miskin, akan dibabat sebesar $190 miliar atau Rp2.500 triliun, melebihi rencana awal yang diajukan Partai Republik. Program layanan bantuan makanan ini digunakan oleh 42 juta warga Amerika.

Tidak hanya itu, dana layanan kesehatan untuk orang miskin, Medicaid, juga akan dipangkas Trump sebesar $800 miliar atau sekitar Rp11.000 triliun.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengunjuk rasa memasang sejumlah 'nisan' menyusul rencana akan dihapusnya sejumlah bantuan untuk warga msikin.

Partai Republik bahkan mengajukan usul untuk memangkas Meals on Wheels, yaang memberikan bantuan makanan kepada manula, orang dengan disabilitas dan veteran perang.

Direktur budget Gedung Putih menyebut: "Ya, kita tetap harus perhatian kepada mereka yang kebagian dana dari pemerintah, tapi kita harus lebih memberikan perhatian kepada orang-orang yang mengucurkan dana itu."

Apakah usulan ini berdampak baik pada ekonomi?

Rancangan anggaran yang diajukan pemerintah Amerika diproyeksi akan mengurangi defisit anggaran, dan berujung pada surplus anggaran pada 2027 mendatang. Itu diharapkan menjadi surplus pertama sejak tahun 1990an.

Rencana anggaran ini menjanjikan pemotongan besaran pajak, dan bergantung pada harapan pertumbuhan ekonomi Amerika sebesar 3%.

Namun, harapan pertumbuhan ekonomi itu dinilai terlalu mengada-ngada, karena badan independen Pusat Budget Kongres memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 1,9%.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pendemo di depan Gedung Putih meminta agar pemerintah tidak melupakan warga miskin.

Badan itu menyebut usulan anggaran pengeluaran negara yang dibuat pemerintah Trump, hanya berdasarkan asumsi yang berlebihan.

Meskipun begitu direktur anggaran Gedung Putih menyebut bahwa pertumbuhan 3% "akan menjadi standar normal yang baru bagi Amerika," karena tanpa itu, "anggaran tidak akan seimbang."

Reaksi?

Anggota partai Demokrat tentu saja berang.

"Saat kampanye, Trump terkesan sangat populis," kata ketua senat Parta Demokrat, Chuck Schumer," tetapi ketika dia memerintah, dia sudah seperti konservatif garis keras saja."

Bahkan, kubu konservatif pun kelimpungan mendengar rencana pemotongan anggaran oleh Trump itu.

Ketua Komite Studi Partai Republik, Mark Walker, kepada Washington Post menyebut: "Akan ada masalah yang muncul jika kita memotong anggaran terlalu besar."

Sementara, John Cornyn, orang nomor dua di senat Partai Republik menyebut rencana Trump itu "akan sudah mati saat baru datang."

Berita terkait