Milisi Maute kibarkan bendera ISIS saat baku tembak di jalanan Filipina

Lucman Hak atas foto Facebook Jamie Lucman
Image caption Bendera hitam yang diduga memuat lambang ISIS ditancapkan milisi Maute di mobil polisi di jalanan Marawi.

Dua orang tentara dan satu polisi Filipina tewas dalam baku tembak di Kota Marawi, antara pasukan pemerintah dengan milisi Maute, yang disebut berbaiat ke ISIS. Para anggota milisi ini sempat mengibarkan bendera hitam ISIS di jalanan kota di Filipina Selatan itu.

Pertempuran pecah di Kota Marawi, Selasa (23/05), ketika pasukan pemerintah memburu seorang pemimpin milisi yang dicari Amerika Serikat, Isnilon Hapilon. Amerika menawarkan hadiah $5 juta atau Rp67 miliar untuk penangkapan Hapilon.

Hapilon, yang merupakan salah satu pimpinan Abu Sayyaf, disebut sedang bersembunyi di Marawi untuk meminta bantuan penguatan pasukan dari milisi Maute.

Kepada media setempat, ANC, Walikota Marawi, Usman Gandamra menyebut ketika polisi dan tentara menggerebek sebuah rumah yang diduga sebagai tempat persembunyian Hapilon, "sebanyak 100 hingga 200 milisi bersenjata memasuki kota".

Dari foto-foto yang diunggah warga Marawi di Facebook, tampak belasan hingga puluhan orang bersenjata mengambil alih rumah sakit dan mengibarkan bendera ISIS di jalanan. Gandamra menyebut serangan itu "mengejutkan, karena mereka tidak menduga banyaknya jumlah milisi yang memasuki kota".

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana menyatakan puluhan milisi bersenjata mengambil alih balai kota Marawi - klaim yang kemudian dibantah oleh Gandamra. Milisi juga disebut menguasai rumah sakit, lapas dan membakar Gereja Santo Mary. Listrik di kota itu pun disebut dipadamkan, menyusul banyaknya penembak jitu Maute di seantero kota.

Gandamra meminta warganya untuk diam di rumah hingga pemberitahuan terbaru disampaikan.

Tiga lokasi utama

Hingga berita ini diturunkan belum diketahui apakah ada korban tewas atau tertangkap dari pihak milisi Maute.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengumumkan pemberlakuan darurat militer di Mindanao hingga 60 hari ke depan.

Hak atas foto EPA
Image caption Duterte mempersingkat kunjungan di Rusia dan mengumumkan penerapan darurat militer di Mindanao.

Duterte yang mempersingkat kunjungannya di Rusia, pada Rabu (24/05) menegaskan dia akan 'bertindak kasar' kepada teroris. Ia juga mengungkapkan, jika perlu, aturan darurat militer akan berlaku hingga setahun ke depan di Pulau Mindanao.

Sementara itu, Kepala Komando Bersenjata Mindanao Barat, Letnan Jendral Carlito Galvez menyatakan aksi tembak menembak antara militer dan milisi Maute di Marawi tidak akan melebar ke kota lain.

"Kondisi di luar Marawi masih normal. Kami sedang berusaha untuk menenangkan situasi di Marawi," kata Galvez kepada kantor berita ABS-CBN. Dia menjelaskan militer sedang berusaha menangkap '80 anggota kelompok teroris' itu, jumlah yang lebih sedikit daripada klaim Walikota Marawi, Usman Gandamra.

Hak atas foto EPA
Image caption Tentara berjaga-jaga di kota Davao setelah pengumuman Darurat Militer.

Galvez menceritakan pihaknya sedang memburu teroris Maute di tiga lokasi utama, namun menolak memberitahu lebih jelas di mana saja lokasi tersebut.

"Yang jelas kami sedang berusaha membersihkan jalanan kota (dari teroris), sehingga dapat memastikan keamanan warga dan properti warga di Marawi," pungkasnya.

Berita terkait