Teror Manchester: Seorang gadis masih hilang dan Inggris tingkatkan kesiagaan

Manchester vigil Hak atas foto European Press Agency
Image caption Ribuan orang menghadiri acara renungan dan ungkapan duka di Manchester.

Tingkat ancaman teror Inggris telah ditingkatkan ke siaga tertinggi 'kritis,' yang berarti serangan lebih lanjut mungkin berlangsung sewaktu-waktu, kata Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Perubahan status siaga teror terjadi setelah penyidik belum dapat memutuskan apakah tersangka Salman Abedi bertindak sendiri, atau bagian dalam jaringan, kata perdana menteri.

Sejauh ini sudah ada empat dari 22 korban tewas, yang diidentifikasi keluarganya.

Seorang gadis 14 tahun, Eilidh MacLeod, masih belum ditemukan sejak serangan Senin malam itu. Sahabatnya, Laura MacIntyre, 15, dirawat di rumah sakit untuk luka parah yang dideritanya.

Polisi mengidentifikasi terduga pelaku serangan sebagai Salman Ebadi, seorang pemuda 22 tahun kelahiran Manchester yang berasal dari sebuah keluarga pengungsi Libya.

Para petugas militer akan dikerahkan untuk melindungi lokasi-lokasi utama di bawah tingkat ancaman baru ini.

'Langkah keamanan'

Perdana menteri Theresa May mengatakan tentara akan ditempatkan di lokasi-lokasi umum utama untuk mendukung polisi bersenjata dalam melindungi masyarakat.

Dalam komando polisi, prajurit militer juga akan terlibat di berbagai acara lain dalam beberapa minggu mendatang, seperti konser, kata May.

Wartawan keamanan BBC Frank Gardner mengatakan jumlah tentara Inggris yang dikerahkan akan berjumlah ratusan, tidak sampai 5.000 seperti yang dilaporkan.

Perdana Menteri mengatakan bahwa dia tidak ingin masyarakat merasa 'terlalu khawatir' namun mengatakan diperlukan 'langkah yang proporsional dan masuk akal.'

Hak atas foto Facebook
Image caption Eilidh MacLeod (kanan) masih belum diketahui keberadaannya, sementara sahabatnya, Laura MacIntyre (kiri) dirawat di rumah sakit karena cedera parah.
Image caption Seorang bocah, Saffie Roussos dan seorang remaja, Georgina Callander, yang tewas bersama 20 orang lain dalam serangan itu.

Tingkat siaga tertinggi, yang diputuskan oleh Joint Terrorism Analysis Center - beranggotakan para ahli dari kepolisian, lembaga pemerintah dan dinas keamanan - baru pernah dilakukan dua kali sebelumnya.

Mark Rowley, yang memimpin satgas anti terorisme nasional, mengatakan bahwa penyelidikan "berlangusng cepat dan mencapai kemajuan ".

"Namun, garis kritis penyelidikan adalah apakah teroris yang tewas itu bertindak sendiri atau bagian dari sebuah kelompok," katanya.

Dan karena garis kritis itu masih belum didapatkan, maka terjadi ketidak pastian, dan siaga kritis ditetapkan.

Pertama kali siaga ancaman ditetapkan di tingkat kritis adalah pada tahun 2006 ketika berlangsung suatu operasi besar-besaran untuk menghentikan rencana sebuah kelompok yang bermaksud meledakkan pesawat-pesawat transatlantik dengan bom cair.

Tahun berikutnya, siaga kritis kembali ditetapkan saat mereka memburu orang-orang yang mencoba mengebom sebuah klub malam di London, sebelum menyerang Bandara Glasgow.

Hak atas foto PA
Image caption Penshaw Monument di Sunderland disemprot cahaya warna merah biru dan putih sebagai penghormatan bagi para korban.

Pelaku serangan bom bunuh diri di Manchester Arena ini disangkakan pada Salman Ebadi, mantan mahasiswa Universitas Salford. Ia diketahui berusia 22 tahun, lahir di Manchester dari keluarga keturunan Libya - diperkirakan meledakkan dirinya di bagian serambi Arena, Senin malam, sesaat setelah pukul 22:30 (04:30 WIB)

Setidaknya 22 tewas, termasuk anak-anak, dan 59 lain luka.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS), melalui saluran di aplikasi pesan Telegram, mengaku - berada di balik serangan Manchester, namun kebenarannya belum diverifikasi.

Ini merupakan serangan teroris terburuk di Inggris sejak pemboman 7 Juli di tahun 2005 oleh empat pelaku bom bunuh diri, yang menewaskan 52 orang.

Berita terkait

Tautan inernet terkait

BBC tidak bertanggung jawab atas konten internet luar