Sebanyak 28 orang Koptik dibunuh, Mesir serang 'kamp pelatihan teroris'

koptik Hak atas foto MOHAMED EL-SHAHED/AFP
Image caption Warga Kristen Koptik di Mesir menguburkan orang-orang yang menjadi korban serangan teroris di wilayah Mesir Tengah, Jumat.

Pasukan Mesir telah menyerang "kamp pelatihan teroris" sebagai pembalasan serangan terhadap orang-orang Kristen Koptik, kata Presiden Abdul Fattah al-Sisi.

Media pemerintah menyebutkan setidaknya ada enam serangan di kota Derna, Libia.

Orang-orang bersenjata sebelumnya telah menyerang sebuah bus yang membawa rombongan orang-orang Kristen Koptik di wilayah tengah Mesir, yang menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai 25 lainnya.

Presiden Sisi mengatakan bahwa dirinya "tidak ragu untuk menyerang kamp-kamp teroris di manapun".

Dalam keterangannya yang disiarkan televisi pada Jumat malam, dia berjanji "melindungi warganya dari tindak kejahatan".

Dia mengatakan negara-negara yang mendukung terorisme harus dihukum, katanya. Dia kemudian meminta bantuan Presiden AS, Donald Trump.

Hak atas foto MOHAMED EL-SHAHED/AFP
Image caption Warga Kristen Koptik di antara puluhan meti yang berisi setidaknya 28 jasad umat Kristen Koptik Mesir yang tewas terbunuh akibat serangan teroris.

Sumber-sumber militer mengatakan kepada Kantor berita Reuters bahwa kelompok militan yang menjadi sasaran di Libia terlibat dalam serangan terhadap orang-orang Kristen Mesir pada hari sebelumnya.

Walaupun tidak ada yang menyatakan bertanggungjawab atas serangan tersebut, kelompok yang menyebut dirinya sebagai Negara Islam atau ISIS telah beberapa kali menjadikan orang-orang Kristen Koptik sebagai sasaran serangan.

Libia sejauh ini dikendalikan oleh sejumlah besar kelompok milisi bersenjata yang bermunculan semenjak negara itu mengalami kekacauan setelah pasukan yang didukung NATO telah menggulingkan rezim Muammar Gaddafi pada Oktober 2011.

Namun demikian, ISIS juga membangun kekuatan di Libia selama masa kekacauan tersebut.

Sebelumnya, Mesir telah meluncurkan serangan udara terhadap kelompok ISIS di wilayah Libia. Dua tahun lalu, militer Mesir mengebom sejumlah kamp pelatihan ISIS di dekat Kota Derna.

Serangan militer ini dilegar sebagai reaksi terhadap aksi militan ISIS yang melakukan pemenggalan kepala 21 orang Kristen Koptik, dalam video yang dirilis oleh kelompok tersebut.

Orang-orang Kristen Koptik yang terbunuh pada Jumat lalu sedang melakukan perjalanan ibadah ke sebuah biara, yang letaknya kira-kira 135km di selatan Kota Kairo. Bus yang mereka tumpangi diserang di sebuah wilayah di Provinsi Minya.

Rombongan kecil itu dihadang di ruas jalan di padang pasir di dekat kantor polisi di dekat perbatasan Provinsi Beni Suef.

Orang-orang bersenjata - yang mengenakan seragam militer - kemudian menyerang konvoi tersebut dengan senjata otomatis sebelum melarikan diri , ungkap sejumlah saksi mata.

Uskup Makarios di Provinsi Minya mengatakan sebagian besra korban ditembak di tempat, demikian laporan New York Times.

Hak atas foto MOHAMED EL-SHAHED/AFP
Image caption Keluarga korban serangan teroris di sela-sela proses pemakaman keluarganya yang tewas dalam serangan kelompok teroris.

Dia mengatakan di antara korban tewas adalah anak-anak yang ikut dalam rombongan bus tersebut.

Tidak lama setelah Presiden Sisi berpidato, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan dukungan dari Presiden Trump.

"Pembantaian terhadap orang-orang Kristen di Mesir ini membuat kita menangis dan berduka," katanya.

"AS berada di sisi Presiden Sisi dan semua warga Mesir pada hari ini, dan kita selalu berjuang untuk mengalahkan musuh bersama ini," tambahnya.

Warga Kristen Koptik diperkirakan berjumlah sekitar 10% dari jumlah keseluruhan warga Mesir yang berjumlah 92 juta.

Dua kasus bom bunuh diri di sejumlah gereja di kota Alexandria dan Tanta pada 9 April telah menewaskan 46 orang.

Serangan tersebut mendorong Presiden Sisi untuk mengumumkan keadaan darurat selama tiga bulan dan berjanji untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk menghadapi kelompok militan, yang sebagian besar diyakini berbasis di wilayah utara Sinai.

Namun demikian banyak orang Kristen Koptik mengeluh bahwa pihak berwenang Mesir tidak berbuat banyak untuk melindungi mereka, seperti dilaporkan wartawan BBC di Kairo, Orla Guerin.

Berita terkait