Duterte dikecam karena lagi-lagi bercanda soal pemerkosaan

Rodrigo Duterte Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Duterte berbicara dengan tentara di kamp militer.

Presiden Filipina kembali dikecam karena bercanda soal pemerkosaan dalam pidatonya pada tentara.

Saat berbicara di kamp militer setelah menerapkan darurat militer di seluruh bagian selatan negara tersebut, dan mengatakan bahwa mereka diperbolehkan memperkosa sampai tiga perempuan.

Ini adalah lelucon pemerkosaan kedua oleh Rodrigo Duterte yang banyak mendapat kecaman setelah dia mengumumkan niatnya menjadi presiden.

Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa komentarnya itu "memuakkan" dan Chelsea Clinton mencuit bahwa pemerkosaan tak pernah lucu.

Kalimat sebenarnya dari Duterte adalah, "Saya akan dipenjara untuk Anda. Jika Anda memperkosa tiga (perempuan), saya akan bilang saya yang melakukannya. Tapi jika Anda menikahi empat, bajingan, kamu akan dipukuli."

Chelsea Clinton, anak perempuan dari mantan presiden Bill Clinton dan kandidat presiden AS 2016 Hillary Clinton, menulis di Twitter bahwa Duterte adalah "preman pembunuh yang tak menghargai hak asasi manusia" dan "pemerkosaan itu tak pernah lucu".

Hak atas foto @ChelseaClinton
Hak atas foto @ChelseaClinton

Phelim Kine dari Human Rights Watch mengatakan bahwa komentar presiden tersebut adalah "upaya humor yang memuakkan" dan mengirimkan pesan pada tentara bahwa mereka boleh melakukan kekerasan hak asasi manusia saat menerapkan darurat militer.

Menurutnya, "Komentar pro-pemerkosaan Duterte hanya membenarkan beberapa ketakutan terbesar dari aktivis hak asasi manusia bahwa pemerintahan Duterte bukan hanya akan menutup mata terhadap kekerasan hak asasi manusia di Mindanao, tapi juga akan secara aktif mendorongnya."

Dan partai politik perempuan di negara tersebut, Gabriela, mengatakan lewat pernyataan, "Pemerkosaan bukan hal bercanda. Darurat militer dan semakin meningkatnya kerentanan terhadap kekerasan militer bagi perempuan dan anak-anak juga bukan bahan bercandaan."

Darurat militer diterapkan pekan lalu di Mindanao, Filipina selatan, di mana separatis muslim dan kelompok pemberontak lain tengah melawan tentara.

Tahun lalu, Duterte bercanda akan pembunuhan dan pemerkosaan seorang misionaris Australia pada 1989. Menurutnya, dia adalah wali kota di kota tempat terjadinya peristiwa tersebut, dan dia seharusnya "jadi yang pertama".

Juru bicaranya, Ernesto Abella, mengatakan pada Sabtu bahwa Duterte menggunakan "bravado yang dilebih-lebihkan", memberikan "dukungan penuhnya bagi laki-laki dan perempuan berseragam", dan "menanggung sepenuhnya aksi mereka".

Hak atas foto @ilda_talk

Berita terkait