Apakah AS akan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris?

Donald Trump berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi Hak atas foto AFP
Image caption Sikap Trump terhadap perubahan iklim membuat diskusi di G7 "sangat sulit".

Donald Trump sudah mengatakan bahwa dia akan memutuskan apakah akan menarik diri dari kesepakatan penting soal perubahan iklim pekan depan, setelah sebelumnya tak mengindahkan tekanan dari sekutu AS dalam beberapa hari terakhir.

Presiden AS itu mencuit bahwa dia akan memberikan "keputusan finalnya" soal kesepakatan Paris setelah kembali ke Washington.

Trump meninggalkan pertemuan tingkat tinggi G7 di Sisilia pada Sabtu (27/05) tanpa memastikan komitmennya terhadap kesepakatan tersebut, berbeda dengan enam pemimpin negara lain yang hadir pada pertemuan tersebut.

Sebelumnya Trump sudah mengancam bahwa AS akan menarik diri.

Trump yang menyebut perubahan iklim sebagai "hoax" atau berita bohong dilaporkan menunjukkan kepada lingkaran terdekatnya bahwa posisinya terhadap isu tersebut masih belum berubah.

Ketidakpastian akan posisi Trump dalam kesepakatan Paris membuatnya berbeda dengan anggota G7 lainnya.

Apa itu kesepakatan Paris?

Kesepakatan Paris adalah kesepakatan iklim dunia pertama yang komprehensif, yang keluar pada 2015, dengan tujuan untuk mempertahankan rata-rata kenaikan suhu dunia di bawah 2C.

Agar bisa mencapai tujuan itu, maka banyak negara berjanji untuk mengurangi emisi karbon mereka.

Namun kesepakatan itu baru bisa diterapkan setelah diratifikasi oleh 55 negara, dan secara gabungan, komitmen itu mencapai 55% dari produksi emisi karbon global.

Barack Obama menandatangani kesepakatan tersebut mewakili AS pada September 2016, dan anggota G7 mengharapkan AS untuk terus melanjutkan komitmen mereka, salah satunya karena negara itu adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Kenapa Donald Trump tak menyukai kesepakatan itu?

Pada pemilihnya saat kampanye, Trump mengatakan bahwa dia ingin menghapus kesepakatan yang "berlawanan dengan kepentingan nasional" dan terus-terusan berjanji untuk memperkuat industri batubara.

Batubara adalah salah satu sumber utama emisi karbon. Meski begitu, Trump ingin mendorong produksi batubara untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Barack Obama, berfoto dengan Presiden Cina Xi Jinping pada pertemuan tingkat tinggi Paris, yang menghasilkan kesepakatan tersebut pada 2015.

Dia juga menyampaikan keraguan akan penyebab perubahan iklim, mengatakan bahwa itu hanya "hoax" yang dibuat oleh Cina.

Apakah AS akan menarik diri?

Situs berita Axios mengatakan bahwa Trump kini menunjukkan kecenderungan itu, dan mengutip tiga sumber yang mengatakan bahwa pendapatnya sudah tak bisa diubah lagi, dan kini ada upaya yang sedang dilakukan untuk menghadapi skenario tersebut.

Laporan ini terlepas dari pernyataan Menteri Pertahanan AS James Mattis dalam sebuah wawancara yang tayang Minggu (28/5) yang mengatakan bahwa presiden kini "terbuka" soal masalah ini.

Penarikan diri dari kesepakatan Paris akan membuat Trump tak populer bukan hanya dengan sekutunya di luar negeri, tapi juga dengan aktivis di dalam negeri.

Sikap Trump terhadap perubahan iklim adalah salah satu hambatan utama dalam pertemuan tingkat tinggi di Sisilia - pertama kalinya dia bertemu dengan sesama pemimpin negara G7 dalam satu kelompok.

Posisi tersebut membuat Trump terisolasi, dan keraguan Trump untuk menegaskan komitmennya jelas-jelas menggangu Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengatakan pada wartawan, "Keseluruhan diskusi tentang iklim ini sangat sulit, jika tidak bisa dibilang sangat tidak memuaskan."

Apa dampaknya?

Ada kekhawatiran bahwa AS akan menarik diri dan negara lain yang lebih kecil juga akan mengikuti langkah AS tersebut.

Namun jika tidak, AS sudah memiliki jejak karbon yang sangat besar, dan artinya dampak dari kesepakatan tersebut akan berkurang secara signifikan.

Apapun yang dipilih AS, Uni Eropa, India dan Cina mengatakan mereka tetap akan dengan kesepakatan yang dibuat di Paris tersebut.

Dan terlebih lagi, sebagian dari warga negara AS pun sudah mengabaikan skeptisisme Trump.

New York dan California sudah terlebih dahulu berjanji untuk mengatasi perubahan iklim tanpa bantuan administrasi pemerintahan Trump.

Berita terkait