Militer Filipina ultimatum kelompok Maute di Marawi

Warga Marawi Hak atas foto FRANCIS R. MALASIG/EPA
Image caption Warga bercakap-cakap dengan tentara di bagian kota Marawi yang telah direbut kembali dari kendali Maute.

Militer Filipina menyerukan kepada anggota pemberontak Maute di Marawi untuk menyerahkan diri atau terancam dibunuh dalam operasi militer untuk melumpuhkan kelompok pro-ISIS itu.

"Kami menyerukan kepada teroris yang masih tersisa untuk menyerahkan diri ketika masih ada kesempatan," kata seorang juru bicara militer Brigjen Restituto Padilla kepada wartawan pada Selasa (30/05) seperti dilaporkan oleh kantor berita Reuters.

Pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak masih berlangsung di Marawi, pulau Mindanao, Filipina selatan.

Perkembangan tersebut terjadi meskipun kemarin militer sempat mengatakan bahwa pertempuran sudah mencapai tahap akhir untuk merebut kembali Marawi dari tangan Maute.

Mengungsi

Pemberontak Maute menguasai sebagian wilayah Marawi pekan lalu setelah dalam operasinya, militer gagal menangkap Isnilon Hapilon, pemimpin milisi yang bersimpati dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) tersebut.

Sementara itu beberapa ratus warga sipil masih terjebak di Marawi dalam kondisi yang bertambah buruk. Di antara mereka yang belum dievakuasi adalah 16 warga negara Indonesia yang melakukan misi dakwah di sana.

Hak atas foto FRANCIS R. MALASIG/EPA
Image caption Tentara berpatroli di bagian kota Marawi yang sudah ditinggalkan oleh pemberontak Maute yang mendukung ISIS.

Adapun ribuan orang lainnya telah menyelamatkan diri dari pertempuran yang telah menyebabkan 19 warga sipil meninggal dunia.

Selain itu, menurut data resmi, pertempuran di Marawi juga merenggut nyawa 17 tentara, tiga polisi dan menewaskan 65 anggota milisi.

Sebagian warga mengungsi ke Provinsi Lanao del Norte, ke arah utara dari Marawi dan mereka mengatakan harus menempuh perjalanan yang amat sulit untuk menyelamatkan diri.

"Kami melarikan diri dengan mendaki gunung setempat walaupun jalur ini panjang. Kami melewati kawasan perairan, bebatuan dan hutan untuk mencapai tempat ini," ungkap seorang warga Marawi, Sainodin Cawie Mama.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang pengungsi beristirahat di tempat penampungan sementara untuk penduduk Marawi.

Pengungsi lainnya berharap pertempuran akan segera berakhir.

"Kami berharap akan tercipta perdamaian karena saat ini bulan Ramadan dan semestinya kami merayakannya bersama keluarga, tetapi sebaliknya, banyak orang tercerai berai dan sebagian anggota keluarga meninggal dunia," kata Amerah Dagalangit.

Topik terkait

Berita terkait