PM Justin Trudeau sarankan Paus Fransiskus minta maaf

Perdana Menteri Justin Trudeau bersama isterinya, Sophie Gregoire-Trudeau, bersama Paus Fransiskus. Hak atas foto ETTORE FERRARI/ AFP
Image caption Perdana Menteri Justin Trudeau bersama isterinya, Sophie Gregoire-Trudeau, bersama Paus Fransiskus.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau ini meminta Paus Fransiskus untuk meminta maaf terkait peran Gereja Katolik dalam suatu sistem sekolah Kanada yang selama berpuluh tahun melecehkan anak-anak suku asli.

PM populer itu menemui Sri Paus di Vatikan, Senin (30/5) sebagai bagian dari kunjungannya ke Italia untuk menghadiri KTT G7.

Sistem yang dimaksud PM Kanada adalah sekolah-sekolah yang didirikan tahun 1880an yang mengambil anak-anak suku asli dari keluarga mereka untuk membaurkannya dengan masyarakat Kanada pada umumnya.

Sekolah terakhir dari sistem ini ditutup tahun 1996.

"Saya mengatakan kepadanya, betapa pentingnya bagi rakyat Kanada untuk melangkah maju dalam suatu rekonsiliasi yang nyata dengan suku adat asli, dan saya menekankan bahwa kita bisa membantunya dengan menyampaikan permohonan maaf," kata Trudeau kepada wartawan, usai menjumpai Sri Paus.

Ia mengatakan, telah mengundang Sri Paus untuk menyampaikan permintaan maaf di Kanada.

Sekitar 150.000 anak suku Indian diambil paksa dari keluarga mereka dan dikirim ke asrama-asrama sekolah yang dikelola gereja, dan di sana mereka dilarang berbicara dalam bahasa asli mereka atau menjalankan kepercayaan dan adat mereka.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada sudah menyerukan dilakukannya permintaan maaf oleh Tahta Suci sebagai bagian dari proses pemulihan para penyintas.

Vatikan sejauh ini tidak menanggapi permintaan Trudeau, namun mengatakan bahwa pembicaraan sekitar 36 menit itu berlangsung secara 'hangat.' Disebutkan, perbincangan "berfokus pada tema-tema integrasi dan rekonsiliasi, serta kebebasan beragama dan berbagai masalah etik terkini lainnya," namun tak menyingung langsung pembahasan tentang permintaan maaf itu.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang mengumpulkan berbagai kisah tentang para penyintas atau orang-orang yang mengalami kejadian itu dan merekomendasikan langkah ke depan, menyebut sistem sekolah asrama yang dimaksud sebagai suatu 'genosida budaya.'

Dalam laporannya, komisi itu merekomendasikan agar Gereja Katolik mengajukan permintaan maaf secara formal untuk peran mereka dalam sistem sekolah itu.

Permintaan maaf itu telah disampaikan oleh gereja Anglikan, Presbyterian dan United Churches, yang bersama dengan Gereja Katolik menjalankan sekolah-sekolah itu bersama pemerintah Kanada.

Pada tahun 2008, mantan perdana menteri Stephen Harper mengajukan permintaan maaf atas nama rakyat Kanada, menyebutnya sebagai 'bab yang menyedihkan dalam sejarah kita.'

Setahun kemudian, Paus waktu itu, Benediktus, mengungkapkan 'kesedihan atas penderitaan yang disebabkan oleh perilaku tercela sejumlah kalangan Gereja' dalam sebuah delegasi dari Assembly of First Nations, atau Majelis Bangsa-Bangsa Pertama, sebuah organisasi advokasi Kanada yang mengunjungi Vatikan waktu itu.

Pada tahun 2015, PM Kanada waktu itu, Stephen Harper bertemu dengan Paus Fransiskus dan meminta perhatian terkait temuan komisi tersebut.

Berita terkait