Berkunjung ke masjid yang kerap didatangi pelaku serangan Manchester

Fawzi Haffar, ketua dewan pengurus Masjid Didsbury, berbicara kepada pers setelah serangan Manchester. Hak atas foto Reuters
Image caption Fawzi Haffar, ketua dewan pengurus Masjid Didsbury, berbicara kepada pers setelah serangan Manchester.

Pengurus masjid yang kerap didatangi pelaku pengeboman Manchester mengatakan mereka perlu 'lebih proaktif' dalam menjauhkan anak-anak muda dari ideologi ekstrem.

Masjid Didsbury diidentifikasi sebagai salah satu masjid yang acap kali didatangi Salman Abedi, sang pengebom, dan keluarganya.

Fawzi Haffar, kepala pengurus masjid mengatakan kepada acara Panorama BBC, "Saya harus jujur. Kami perlu banyak belajar, (kami) harus lebih sadar."

Ia mengatakan bahwa masjid membutuhkan 'kebijakan yang tepat' untuk mencegah ekstremisme.

Usai konser Ariana Grande, di Manchester Arena pekan lalu, Abedi meledakkan diri, menewaskan 22 orang serta melukai puluhan lainnya.

"Ketika kami mengetahui bahwa dia (Abedi) sering datang ke masjid ini, kami bertanya kepada para pegawai apakah mereka mengingat dia. Dan beberapa orang menjawab iya," kata Haffar.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Masjid Didsbury di Manchester biasa menjadi tempat ibadah Abedi. Kakak laki-lakinya, Ismail, mengajar di masjid tersebut.

Sebelum pindah ke Libya pada 2011, ayahnya sering mengumandangkan azan di situ.

Salman Abedi diingat beberapa orang sebagai penyendiri yang suka membaca buku di pojok ruangan.

Hak atas foto Reuters

Kendati dilaporkan secara luas bahwa Abedi pernah dilaporkan ke pihak berwenang oleh Masjid Didsbury, pengurus masjid menegaskan ke Panorama bahwa itu tidaklah benar.

Namun Haffar berkata bahwa salah seorang imam di masjid memang pernah melaporkan tiga tersangka lain dua tahun lalu.

"Masjid ini terbuka untuk semua orang dan kami menerima ratusan jemaah setiap hari. Kami kelimpahan kaum muda yang datang ke masjid ini."

Meski demikian, ia mengakui bahwa masjidnya perlu bekerja lebih keras untuk mengenali tanda-tanda ekstremisme.

"Saya pikir kami harus meminta para imam untuk lebih proaktif dalam menghindarkan kaum muda dari cerita-cerita jahat, orang-orang jahat."

Namun memang ada orang, warga di masyarakat setempat yang pernah melaporkan Abedi.

Seorang pekerja berusia muda mengatakan kepada Panorama bahwa waktu Abedi kuliah di masa remajanya, para guru dan sesama murid dibuat begitu khawatir sampai mereka menelepon hotline antiteror beberapa kali.

Menurut sumber tersebut, Abedi selalu mengatakan bahwa suatu perjuangan layak dibayar dengan nyawa dan ia setuju dengan bom bunuh diri.

Hak atas foto Greater Manchester Police
Image caption Sosok pelaku bom bunuh diri Manchester Salman Abedi yang tertangkap CCTV sebelum menjalankan aksinya.

Haffar mengatakan Masjid Didsbury mengajak orang-orang untuk mengesampingkan pandangan politik mereka.

"Adalah tugas kami untuk melaporkan orang yang kami pikir akan menjadi ancaman, yang mungkin akan melakukan aksi terorisme, apa pun kepercayaannya, apa pun warna kulitnya, apa pun agama yang mereka anut," tuturnya.

"Meskipun mereka anak saya sendiri, tetap tanggung jawab saya untuk melakukan itu dan kami harus menerimanya."

Namun pekan lalu, seorang hadirin di acara BBC Question Time mengklaim dirinya pernah disodorkan selebaran berisi pesan anti-Barat di Masjid Didsbury.

Pihak masjid mengatakan mereka tidak mencetak selebaran tersebut, namun mengakui bahwa selebaran-selebaran tidak resmi dan tanpa izin terkadang ditinggalkan orang-orang yang tidak terkait dengan mereka.

Haffar mengatakan kepada Panorama bahwa Masjid Didsbury perlu meninjau kembali praktik keseharian mereka.

"Kami harus membuat kebijakan yang tepat. Kami harus menghindari kesalahan."

Topik terkait

Berita terkait