Bunuh kekasih transgender, pria anggota geng dihukum 49 tahun

Mercedes Williamson Hak atas foto FACEBOOK
Image caption Joshua Vallum membunuh Mercedes Williamson, transgender berusia 17 tahun, setelah hubungan mereka diketahui teman-teman Vallum.

Seorang pria Mississippi dijatuhi hukuman setelah membunuh seorang perempuan transgender dalam sidang pidana pertama di AS tentang kejahatan kebencian berdasarkan identitas gender.

Joshua Vallum diganjar kurungan penjara selama 49 tahun atas pembunuhan mantan pacarnya, Mercedes Williamson yang berusia 17 tahun.

Vallum dinyatakan bersalah menikam dan memukuli Mercedes setelah teman-temannya mengetahui hubungan mereka.

Para pengacara yang memperjuangkan hak-hak transgender mengatakan terjadi 'wabah kekerasan ' terhadap komunitas minoritas seksual ini.

"Vonis hari ini menegaskan hukuman terhadap tindakan kekerasan kepada orang-orangtransgender," kata Jaksa Agung AS mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis.

"Departemen Kehakiman akan melanjutkan upayanya untuk membela hak-hak para individu transgender yang terdampak kejahatan berdasarkan prasangka," tambah mantan anggota kongres Alabama tersebut.

Pada tahun 2009 Kongres memperluas undang-undang pidana kebencian dengan memasukkan kejahatan yang didorong oleh orientasi seksual korban.

Hak atas foto FACEBOOK
Image caption Vallum mengaku membunuh Mercedes karena ia seorang transgender.

Kasus yang dimulai sejak pemerintahan Obama ini, merupakan tuntutan kejahatan kebencian pertama yang didasarkan pada identitas gender korban.

Kepada jaksa penuntut umum, Vallum, anggota geng jalanan Latin Gangs yang berusia 29 tahun itu mengaku menjalin hubungan cinta secara diam-diam dengan Mercedes selama musim panas 2014.

Ia sudah tahu bahwa pacarnya adalah transgender yang beralih dari pria menjadi perempuan, namun sempat mengaku kepada petugas bahwa ia 'pingsan' dan membunuhnya setelah melihat penisnya.

Para pakar merujuk teknik ini sebagai pembelaan hukum yang disebut "gay panic" atau "trans panic," atau kekerasan yang dilakukan spontan dan seketika saat mengetahui korbannya adalah gay atau transgender.

Setelah hubungan mereka berakhir, Vallum memutuskan untuk membunuh Mercedes karena mencemaskan tindakan yang akan dilakukan para anggota geng lain yang mengetahui masa lalu mereka.

Vallum membujuk Mercedes agar datang ke rumah ayahnya, yang lalu ia serang dengan pistol setrum, lalu menikamnya dan menghantamnya dengan palu saat ia mencoba melarikan diri.

Saat sidang vonis, Vallum memohon pengampunan dari keluarga Mercedes, meski tidak ada satupun dari mereka yang hadir di pengadilan.

"Setiap hari, hidup saya diliputi dengan rasa bersalah dan penyesalan atas tindakan saya," kata Vallum.

"Jika saya bisa mengembalikan Mercedes dengan menyerahkan nyawa saya, saya akan dengan senang hati melakukannya."

Sedikitnya ada sembilan orang transgender yang tewas pada tahun 2017 di AS, menurut para pendukung hak-hak LGBT.

Topik terkait

Berita terkait