Pembunuh dua pria pembela gadis Muslim, berteriak-teriak di pengadilan

Christian shouts in court Hak atas foto Reuters
Image caption "Tinggalkan negara ini jika kalian membenci kebebasan kami," teriaknya.

Tersangka pembunuhan terhadap dua orang yang membela perempuan Muslim yang dihinanya tatkala dalam perjalanan di sebuah kereta, berteriak-teriak saat tampil di sidang pengadilan.

Dalam kehadirannya yang singkat di pengadilan, Jeremy Joseph Christian meneriakkan slogan-slogan seperti: "Kalian sebut (tindakan saya) itu terorisme, buat saya ini patriotisme."

Dia juga terdengar berteriak "Matilah musuh-musuh Amerika," dan "Tinggalkan negara ini jika kalian membenci kebebasan kami- mampuslah antifa," katanya, menggunakan singkatan umum gerakan anti-fasis.

Jeremy Joseph Christian yang didakwa dengan pembunuhan, percobaan pembunuhan, intimidasi, dan kepemilikan senjata, belum menyatakan sikap atas dakwaan-dakwaan itu, dan akan dihadapkan lagi ke pengadilan pada 7 Juni.

Walikota Portland sedang berusaha untuk melarang sebuah demonstrasi kalangan kanan yang akan dijadwalkan berlangsung di sebuah kota di Pantai Barat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Berbagai ungkapan duka dan solidaritas dari warga Portland, di sebuah tempat yang dikhususkan untuk itu.

Serangan yang menghebohkan Amerika itu terjadi Jumat sore pekan lalu, dimulai dengan teriakan-teriakan Jeremy Joseph Christian yang bernada 'ujaran kebencian' terhadap dua perempuan muda Muslim di sebuah kereta, kata polisi.

Saat itu dua lelaki, Taliesin Namkai-Meche, 23, dan Ricky Best, 53, membela dua perempuan muda itu dan meminta Jeremy Joseph Christian untuk menghentikan ulahnya. Tapi Jeremy Joseph Christian justru menyerang mereka dengan pisau, mengakibatkan kematian mereka, kata penyidik.

Seorang pria lain, Mikha David-Cole Fletcher, juga terkena tusukan di lehernya, namun selamat dan dan mulai pulih. Dia hadir di pengadilan pada hari Selasa untuk melihat penampilan Jeremy Joseph Christian.

Salah seorang gadis yang diteriaki saat itu, Destinee Mangum, 16, mengatakan bahwa dia sedang bersama seorang temannya yang mengenakan jilbab untuk malam pertama bulan Ramadan - bulan tersuci Islam - ketika tersangka menyasar mereka.

"Dia berteriak bahwa kami harus pulang ke Arab Saudi, dan dia mengatakan bahwa kami seharusnya tidak berada di sini, dan harus keluar dari negara dia," katanya kepada KPTV-TV.

"Dia mengatakan kepada kami bahwa pada dasarnya kami tak ada artinya dan bahwa kami seharusnya bunuh diri saja."

Hak atas foto Vajra Alaya-Maitreya
Image caption Dua korban tewas: Taliesin Namkai-Meche (kanan) and Ricky Best (kiri)

Ibu dari Namkai-Meche, Asha Deliverance, menulis surat terbuka kepada Presiden Donald Trump di akun Facebook-nya, dan mendesaknya untuk 'mengambil tindakan.'

"Kata-kata dan tindakan Anda akan menanentukan, di Amerika dan seluruh dunia," tulisnya.

"Tolong dorong semua rakyat Amerika untuk melindungi dan menjaga satu sama lain. Tolong kutukan tindakan kekerasan apa pun, yang merupakan akibat langsung dari ujaran kebencian dan kelompok-kelompok pembenci."

Presiden Trump sebelumnya mengatakan bahwa serangan itu 'tidak bisa diterima.' 

Hak atas foto Facebook
Image caption Asha Deliverance, ibu salah seorang korban menulis: "Taliesin Myrddin Namkai Meche, anakku sayang, meninggal karena melindungi dua gadis Muslim dari tindakan seorang rasis di sebuah kereta. Dia adalah seorang pahlawan dan akan selalu menjadi pahlawan. Bintang yang bercahaya cemerlang, aku mencintaimu selamanya."

Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki latar belakang ideologi ekstremis dari Jeremy Christian.

Pada sebuah acara 'Mimbar Bebas' di Portland pada tanggal 29 April, polisi menyita sebuah tongkat bisbol yang diduga digunakannya untuk mengancam kaum liberal yang melakukan aksi protes.

Dalam sebuah rekaman video, tampak juga Christian melakukan penghormatan ala Nazi, dan meneriakkan slogan rasial saat membalut dirinya dengan bendera Amerika.

Di halaman Facebooknya dia memuji pembom Oklahoma City Timothy McVeigh dan memposting ancaman pembunuhan terhadap Hillary Clinton.

Hak atas foto AFP
Image caption Jeremy Christian tercatat pernah melakukan berbagai tindak kejahatan.

Tersangka pembunuh ini juga menulis: "Jika Donald Trump adalah Hitler lain maka saya akan bergabung dengan SS-nya".

Christian juga menyuarakan dukungan untuk Senator Bernie Sanders, kandidat presiden Demokrat 2016, yang sinis terhadap Wall Street.

Menurut surat kabar Oregonian, pada tahun 2002 Christian mengaku bersalah untuk kasus perampokan dan penculikkan terhadap pemilik sebuah toko.

Pada tahun 2010 dia didakwa melakukan pencurian dan pemilikan senjata api.

Hak atas foto Portland Mercury/ Doug Brown
Image caption Christian tampak membalut badannya dengan bendera Amerika dan mengacungkan salam Nazi.

Walikota Ted Wheeler mengatakan bahwa dia menyambut baik cuitan presiden pada hari Senin yang mengutuk serangan tersebut.

Namun dia mendesak pemerintah untuk mencabut izin "Aksi Mimbar Bebas Trump" yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Portland.

Dia mengatakan bahwa para demonstran "datang untuk menggelorakan pesan kebencian" dan ujaran kebencian tersebut tidak dilindungi oleh konstitusi AS.

Sebuah halaman Facebook acara tersebut mengatakan akan ada pembicara dan musik di "salah satu daerah paling liberal di Pantai Barat," dan menyampaikan terima kasih kepada Trump 'atas semua yang telah Anda lakukan.'

Hak atas foto Reuters
Image caption Berbagai grafiti ungkapan duka bagi para korban pembunuhan berdasar kebencian.

Walikota Wheeler juga meminta pemerintah untuk menolak memberikan izin untuk "March Against Shariah" "Pawai Menentang Syariah," yang direncanakan berlangsung di Portland pada 10 Juni.

"Kota kita berkabung, kemarahan komunitas kita adalah nyata. Dan subjek acara-acara ini, dan waktu penyelenggaraannya, hanya akan memperburuk situasi yang sudah sulit," kata sang walikota.

Namun American Civil Rights Union membela acara-acara tersebut, dengan mengatakan dalam serangkaian cuitan bahwa "pemerintah tidak dapat mencabut atau menolak izin berdasarkan haluan pandangan para demonstran. Titik."

Berbagai situs penggalangan dana untuk korban pembunuhan Jeremy Christian yang dibuka sejak Jumat, telah mengumpulkan lebih dari $1 juta (lebih dari Rp13 miliar).

Berita terkait