Dikecam, anjuran mengenakan gaun berdada rendah saat wisuda

Mahasiswa diwisuda Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesan tersebut dikirimkan ke para mahasiswa kedokteran.

Sebuah perguruan tinggi di Belgia meminta maaf terkait pesan yang dikirim kepada mahasiswi yang meminta mereka untuk mengenakan pakaian berpotongan dada rendah untuk acara wisuda.

Pesan email tersebut dikirimkan kepada para mahasiswa kedokteran di Universite libre de Bruxelles (ULB).

"Dari sudut pandang estetika," tulis email itu, "lebih baik bagi para perempuan muda mengenakan gaun atau rok, dengan potongan dada rendah yang bagus."

Sedangkan para mahasiswa diminta untuk mengenakan jas untuk acara yang akan berlangsung bulan depan itu.

"Tentu saja, saran ini tidak wajib untuk dilaksanakan," tambah email itu.

Namun terlepas dari masalah wajib atau tidaknya, saran tersebut menimbulkan kecaman di media sosial.

Pihak universitas kemudian merilis sebuah pernyataan di Facebook dan Twitter, atas nama fakultas kedokteran, meminta maaf kepada semua mahasiswa yang telah menerima pesan tersebut.

Saran tersebut tidak pantas dan bertentangan dengan nilai-nilai universitas, katanya.

Hak atas foto ULB CONFESSIONS / FACEBOOK
Image caption Pesan dari email asli, dengan tulisan yang ditandai dari orang-orang yang membagikannya secara daring.

Potongan pesan dari email asli dibagikan dalam bentuk screenshot di halaman Facebook yang diberi nama ULB Confessions, yang menimbulkan lelucon dan gambar parodi yang biasa digunakan untuk mengungkapkan kemarahan pada 'skandal kecil' itu.

Ratusan mahasiswa menanggapi email tersebut dengan menuduh universitas itu bersifat seksis.

Laman ULB Confessions juga mempublikasikan tanggapan yang diterima dari seorang mahasiswa: "Tak ada seorang pun yang berhak mengatakan bagaimana perasaan untuk hidup sebagaimana adanya. Tak ada seorang pun yang berhak menyuruh Anda tentang cara berpakaian. Tak ada seorang pun yang berhak untuk menentukan bagaimana Anda memainkan peran Anda sebagai perempuan. Tak ada seorang pun yang berhak merenggut kebebasan yang telah (dan masih) dibangun dengan susah payah."

Email itu kemungkinan besar dikirim oleh seorang perempuan karena tidak ada pria di laman itu, kata dekan fakultas kedokteran, Marco Schetgen, kepada kantor berita Belgia RTL.

"Tidak, (email) ini bukan hoax," katanya.

Dia mengukuhkan bahwa email itu telah dikirimkan, tapi menambahkan bahwa ia sendiri terkejut saat mengetahui email itu.

Topik terkait

Berita terkait