Amerika Serikat mundur dari kesepakatan iklim Paris 2015

Trump, Amerika Serikat, Gedung Putih Hak atas foto Getty/Win McNamee
Image caption Keputusan mundur dari kesepakatan iklim Paris 2015 diumumkan Presiden Trump di Taman Mawar Gedung Putih.

Presiden Donald Trump sudah mengumumkan Amerikat Serikat mundur dari kesepakatan iklim Paris 2015.

Dia menambahkan langkah untuk merundingkan kesepakatan baru yang 'adil' yang tidak merugikan dunia usaha dan pekerja AS akan dimulai.

Kesepakatan Paris tahun 2015 lalu mengikat Amerika Serikat dan 187 negara untuk menjaga kenaikan temperatur global 'jauh di bawah' 2'C (3,6'F) dan 'berupaya membatasi' pada 1,5'C.

Hanya Suriah dan Nikaragua yang tidak menandatangani kesepakatan itu.

Hak atas foto PA/David Mizoeff
Image caption Sejumlah orang menggelar unjuk rasa di Kedutaan Besar AS di London menjelang pengumuman Trump mundur dari kesepakatan Paris.

Saat mengumumkan kebjakan itu di Taman Mawar Gedung Putih, Kamis (01/06) waktu Washington, Trump menggambarkan kesepakatan Paris sebagai perjanjian yang ditujukan untuk memincangkan, merugikan, dan memiskinkan Amerika Serikat.

Dia berpendapat kesepakatan akan menyebabkan kehilangan Produk Domestik Bruto sebesar US$3 triliun dan 6,5 juta lapangan kerja, sementara saingan ekonomi seperti Cina dan India mendapat perlakuan yang lebih baik.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kesepakatan Paris 2015 mengikat Amerika Serikat dan 187 negara untuk menjaga kenaikan temperatur global 'jauh di bawah' 2'C (3,6'F).

"Untuk memenuhi tugas sungguh-sungguh dalam melindungi Amerika dan warganya, Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan iklim Paris."

"Jadi kami akan ke luar namun akan memulai perundingan dan kita akan lihat apakah kita membuat kesepakatan yang adil," tambahnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Amerika Serikat menyumbang sekitar 15% emisi karbon global.

Pada masa kampanye tahun lalu, Presiden Trump mengatakan akan mengambil langkah untuk membnatu industri minyak dan batu bara Amerika Serikat.

Para penentangnya mengatakan kebijakan untuk ke luar dari kesepakatan global merupakan langah mundur kepemimpinan Amerika Serikat dari tantangan global utama global.

Sebelumnya Sekjen PBB, Antonio Guterres, kembali meminta agar Presiden Trump tidak memutus komitmen AS namun menambahkan bahwa perjuangan melawan perubahan iklim akan tetap berlanjut terlepas dari posisi yang yang diambil pemerintah Washington.

"Jelas merupakan keputusan yang amat penting karena Amerika Serikat merupakan perekonomian terbesar duna. Namun terlepas dari keputusan Amerika Serikat, penting bahwa semua pemerintahan tetap berada di jalurnya," jelasnya kepada BBC.

Para pengamat memperkitakan mundurnya Amerika Serikat akan membuat semakin sulit bagi dunia untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh kesepakatan Paris.

Amerika Serikat menyumbang sekitar 15% emisi karbon global namun juga merupakan sumber keuangan dan teknologi yang penting bagi negara-negara berkembang dalam upaya mengatasi peningkatan temperatur.

Berita terkait