Warga Indonesia di Inggris mengaku cemas dan waspada

London, polisi, Hak atas foto Carl Court
Image caption Serangan di London Bridge merupakan aksi teror ketiga di Inggris sejak 22 Maret lalu.

Serangan di London Bridge yang menewaskan sedikitnya tujuh orang merupakan aksi teroris ketiga yang terhadi di Inggris dalam waktu sekitar tiga bulan belakangan.

Tanggal 22 Mei lalu, seorang pengebom bunuh diri meledakkan dirinya di luar ruang konser musik di Manchester dan menewaskan 22 jiwa dan melukai sekitar 120 lainnya.

Dua bulan sebelumnya, pada 22 Maret, seorang pria menabrak pejalan kaki di Jembatan Westminster dan menikam seorang polisi hingga jatuh korban lima orang sebelum pelakunya ditembak mati.

Rangkaian teror itu membuat beberapa warga dan mahasiswa Indonesia serta seorang mahasiswa Timor Leste yang tinggal di Inggris merasa cemas juga.

Endang Scanlon

Menikah dengan pria Inggris dan tinggal di London sejak tahun 1988

"Ada perasaan marah dan sedih tapi tidak bisa apa-apa karena sudah banyak peristiwa yang begini jadi bukan hal yang luar biasa lagi. Tapi yang terakhir di London Bridge dan di Borough Market membuat saya agak mulai ada perasan sedikit cemas kalau ke luar. Apakah saya mungkin jalan bersebelahan dengan orang yang akan melakukan sesuatu hal yang tidak baik terhadap saya. Sebelumnya tidak begitu."

"Namanya kejadian atau musibah itu bisa terjadi di mana saja, nggak usah di London juga di kampung sendiri. Jadi akan mencoba mengatakan 'tidak apa-apa, it's ok."

"Kalau misalnya kita mengatakan kepada anak-anak kita agar hati-hati kalau ke luar malam pulang jangan terlalu telat. Tapi sekarang itu kayaknya tidak ada bedanya lagi, karena serangan bisa terjadi kapan saja bukan hanya dalam waktu tertentu saja. Siang hari, di mana orang-orang banyak, merasa aman di trotoar. Berjalan di trotoar itu kan siapa yang bisa menyangka kalau ada orang yang tidak sehat langsung menerjang saja ke trototar."

Haydin Haritzon

Staf di Lembaga Penjamin Simpanan, LPS, yang menempuh program S2 Perbankan dan Keuangan di Queen Mary University, London.

Hak atas foto Haydin Haritzon
Image caption Haydin Haritzon sedang memikirkan kembali untuk membawa keluarganya liburan ke London.

"Cukup mengerikan karena dalm waktu yang tidak begitu jauh ada tiga serangan. Selama ini London punya catatan yang baik, namun belakangan ini frekuensinya semakin tinggi, Ini membuat kami yang sedang belajar cukup tidak nyaman, khawatir. Walau di Indonesia juga terjadi serangan serupa, namun dua serangan yang di Westminster London Brdige kan daerah yang sehari-hari dilewati karena merupakan pusat bisnis dan juga pusat wisata. Mungkin seminggu beberapa kali kita lewat situ. Jadi terjadi di depan mata."

"Bagaimanapun bisa terjadi pada siapapun karena sifatnya random (serampangan), jadi yang bisa kita lakukan ya tetap alert saja, waspada."

"Ada rencana keluarga untuk datang ke London tapi saya mempertimbangkan kembali sebenarnya. Beberapa kejadian belakangan membuat kami berfikir ulang walau lagi-lagi saya sampaikan di Indonesia juga ada serangan serupa. Bagaimanapun jadi perhatian khusus bagi kami apakah tetap mendatangkan atau tidak. Tadinya 100% sudah mantap, sekarang jadi 50-50."

Alma Adventa

Ibu dua anak yang sudah tinggal bersama keluarga di Manchester selama 15 tahun.

Hak atas foto Alma Adventa
Image caption Alma Adventa sempat merasa takut karena polisi menggerebek sebuah apartemen di dekat rumahnya di Manchester.

"Saat terjadi di Manchester, pada hari-hari pertama setelah pengeboman memang situasi agak tegang karena kami tinggal di lingkungan yang banyak umat Muslim juga. Dan di dekat kami memang ada polisi yang datang ke satu apartemen untuk melakukan raid (penggerebekan), bahkan sampai sekarang masih ada polisi yang melakukan pemeriksaan di apartemen itu."

"Jadi waktu itu kita takut sekali. Ini kenapa kok bisa daerah kita ada orang-orang yang tersangkut. Ada sedikit rasa apa kira harus curiga dengan orang-orang di sekitar kita tapi pada akhirnya kita kembali ke pikiran rasional bahwa di manapun sebenarnya bisa tidak aman. Kita tidak usah terlalu reaktif terhadap situasi yang ada Kita tetap berbuat baik terhadap orang -orang tanpa memandang agama, suku, atau dari mana dia datang."

"Bagaimana menjelaskan kepada anak juga agak sulit karena buat mereka kok bisa terjadi hal seperti itu. Orang bisa melakukan bom bunuh diri, orang bisa menabrak, dan apa yang mendorong melakukan itu, Timbul pertanyaan juga dan untuk menjelaskan kepada mereka, saya agak repot. Kita kasih pesan juga kepada anak-anak agar berhati-hati jika berada di keramaian."

Jo Monteiro

Asal Lospalos, Timor Leste, yang mendapat Chevening Scholarship untuk program S2 Hukum Pajak di London School of Economics, LSE.

Hak atas foto Jo Monteiro
Image caption Jo Monteiro yang berasal dari Lospalos Timor Leste mengambil progam S2 di London.

"Mungkin secara pribadi saya merasa khawatir dengan keamanan di London secara khusus dan Inggris secara umum, Tapi, seperti yang diberitakan oleh media, aparat kota London sendiri dan pemerintah Inggris Raya sepertinya sangat responsif terhadap teror yang dlakukan orang -orang yang tidak memandang sisi kemanusiaan sebagai sesuatau hal yang harus ditegakkan."

"Jadi sebenarnya sebagai individu dan sebagai masyarakat global mungkin ktia tidak perlu harus takut tapi juga dituntut untuk selalu waspada dalam setiap aktifitas dan kegiatan kita."

Topik terkait

Berita terkait