Baku tembak di tengah gencatan senjata, warga terjebak di kota Marawi

Warga Marawi Hak atas foto AFP
Image caption Puluhan warga berhasil melarikan diri sebelum gencatan senjata dilangsungkan.

Ratusan warga sipil masih terjebak di kota Marawi, Filipina, setelah baku tembak terjadi di tengah gencatan senjata yang berlangsung selama empat jam untuk mengevakuasi mereka.

Para pejabat berharap bahwa sekitar 1.000 warga akan meninggalkan kota tersebut, namun hanya 130 orang yang bisa diungsikan keluar, sebut beberapa laporan.

Gencatan senjata antara angkatan bersenjata dan milisi yang terkait dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) dicapai melalui para penengah.

Pertempuran tersebut telah menewaskan lebih 170 orang, termasuk setidaknya 20 warga sipil.

Gencatan senjata dijadwalkan akan berlangsung hingga pukul 12:00 waktu setempat.

Tapi baru satu jam berlangsung, kembali terdengar suara tembakan, yang tampaknya dilepaskan untuk mencegah warga meninggalkan kota tersebut, lapor kantor berita Reuters.

Hak atas foto AFP
Image caption Pertempuran di kota tersebut telah menewaskan 120 gerilyawan dan 38 pasukan pemerintah, kata beberapa pejabat.

Belum diketahui jelas siapa yang melepaskan tembakan. Seorang perwakilan pemerintah mengatakan bahwa perundingan terus berlanjut untuk gencatan senjata sementara berikutnya, pada hari Senin (05/06).

Sebagian besar warga sipil telah meninggalkan Marawi namun lebih dari 2.000 orang diyakini masih berada di kota tersebut.

Gencatan senjata tersebut dimediasi oleh kelompok pemberontak Moro Islamic Liberation Front (MILF) atau Tentara Pembebasan Islam Moro, sebuah gerakan separatis yang berbasis di pulau Mindanao, tempat kota Marawi berada.

Mereka telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian akhir.

Pertempuran di Marawi dimulai bulan lalu ketika angkatan bersenjata berusaha menangkap Isnilon Hapilon, yang diyakini sebagai pemimpin utama ISIS di Filipina dan terkait dengan kelompok Maute setempat, yang telah menyatakan kesetiaan kepada ISIS.

Upaya penangkapan itu gagal. Namun kelompok Maute melakukan pembalasan dengan menyerang beberapa bagian kota yang berpenduduk 200.000 orang, menjadikannya sebagai sandera.

Presiden Rodrigo Duterte kemudian mengumumkan darurat militer di Pulau Mindanao.

Militer Filipina yang menggunakan kekuatan angkatan darat dan serangan udara dengan helikopter, sudah merebut kembali banyak wilayah, namun sejumlah kawasan tetap berada di tangan pemberontak.

Image caption Marawi dikenal sebagai 'Kota Islam' di Filipina karena mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Filipina, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, selama beberapa dasawarsa menghadapi gerakan separatis Muslim di Mindanao yang dihuni populasi Muslim yang signifikan.

Marawi dikenal sebagai 'Kota Islam' di Filipina karena mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Berita terkait