Mesir putus hubungan dengan Qatar, warga 'tak terpengaruh'

Qatar Airways Hak atas foto FAYEZ NURELDINE/AFP
Image caption Sekutu negara-negara Teluk menyatakan menutup wilayah udara mereka bagi maskapai penerbangan Qatar Airways.

Mesir mengikuti jejak Arab Saudi dan sejumlah negara lain untuk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dengan alasan negara itu menggoyah kawasan.

Pemutusan hubungan diplomatik pertama-tama dilakukan oleh Bahrain, disusul dengan Arab Saudi pada Senin pagi (05/06). Mesir, Uni Emirat Arab, Yaman, Libia dan Maladewa kemudian menempuh langkah yang sama.

Menurut Arab Saudi, Qatar menjalin hubungan dekat dengan banyak kelompok teroris, termasuk kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS).

Namun Qatar mengatakan tuduhan tersebut tidak berdasar.

Di Mesir, pemutusan hubungan itu tidak mengejutkan warga. Paling tidak itulah yang disimpulkan dalam percakapan mereka dengan Tanwil Bahri Lubis, mahasiswa Indonesia yang telah berada di ibu kota negara itu, Kairo, selama 12 tahun terakhir.

"Ketika kita mulai membahas hal itu dengan teman-teman orang Mesir, mereka mengatakan sebenarnya Mesir ini secara politik bisa dibilang hanya ikut saja. Karena sikap politik mereka hanya mengambil yang bagi mereka mungkin suatu hal yang punya maslahat," jelas Tanwil Bahri Lubis dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir pada Senin (05/06).

Ikut Arab Saudi

Dalam hal hubungan dengan Qatar, lanjutnya, Mesir ingin diakui secara politik sehingga memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dianggap sebagai langkah yang mendatangkan kebaikan.

"Apapun yang akan dilakukan dari sisi kebijakan, selagi itu mengikut kepada Saudi dan punya maslahat ke sana, dia (Mesir) bakal mengikut ke sana."

Hak atas foto Tanwil Bahri Lubis
Image caption Menurut Tanwil Bahri Lubis, warga Mesir bersikap apatis menyikapi pemutusan hubungan dengan Qatar.

Di samping itu, Qatar yang selama ini dikenal sebagai pendukung Ikhwanul Muslimin, gerakan yang sudah dilarang di Mesir, sudah sewajarnya mengalami pemutusan hubungan diplomatik.

"Kalau kita tanyakan kepada masyarakat Mesir sendiri, mereka akan menjawab itu sudah pemakluman karena rezim yang sekarang ini sudah lama bersitegang dengan pemerintah Qatar," tambah Tanwil Bahri Lubis.

Di kalangan masyarakat biasa, menurut warga negara Indonesia yang mengamati masalah sosial dan politik di Mesir itu, pemutusan hubungan diperkirakan tidak akan berdampak besar.

"Dampak baik dari ekonomi, sosial dan lain-lain itu senarnya tidak ada yang berubah. Bahkan dampak itu secara ekonomi tidak ada sama sekali karena sejak revolusi Mesir yang kedua pada bulan Juni 2013, Mesir hampir tidak punya hubungan baik dengan Qatar."

Hak atas foto MOHAMED HOSSAM/EPA
Image caption Hubungan Mesir dengan Qatar sudah tidak hangat lagi sejak revolusi Mesir yang kedua pada Juni 2013.

Pemutusan hubungan enam negara dengan Qatar memang berlangsung tiba-tiba, namun tidak terjadi begitu saja karena ketegangan telah terjadi berkembang selama bertahun-tahun, dan khususnya beberapa pekan terakhir.

Dua pekan lalu, Mesir, Arabia Saudi dan Bahrain memblokir situs berita Qatar, termasuk Al Jazeera.

Media pemerintah Qatar memuat pernyataan kontroversial yang dilaporkan dikatakan oleh oleh Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengkritik Arab Saudi.

Tetapi pemerintah Qatar bersitegas bahwa pernyataan tersebut palsu dengan mengklaim pernyataan itu muncul karena 'kejahatan siber yang tercela'.

Topik terkait

Berita terkait