Qatar 'tak akan menyerah' pada negara Islam yang mengucilkannya

Doha Hak atas foto Reuters
Image caption Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed mengatakan bahwa Qatar dikucilkan 'karena kami sukses dan progresif.'

Qatar bertekad 'tidak akan menyerah' pada negara-negara Arab dan Islam yang mengucilkannya dan menuduhnya mendukung ekstremisme.

Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan bahwa dia lebih suka jalan diplomasi untuk menyelesaikan peningkatan krisis itu dan menegaskan bahwa tidak ada solusi militer, lapor Kantor Berita Reuters.

Sementara itu, jaringan pemberitaan internasional Qatar, Al Jazeera mengaku menderita serangan siber.

Di situsnya, Al Jazeera menyebutkan bahwa semua layanannya masih berlangsung namun serangan siber tersebut "semakin meningkat dan mengambil berbagai bentuk."

"Al Jazeera Media Network menderita serangan siber pada semua sistem, situs web dan platform media sosial," cuit Al Jazeera. Jaringan media ini menjadi salah satu sasaran dalam kisruh saat ini, dan negara-negara Teluk lain sudah memblokirnya pada akhir Mei.

Sementara itu, stasiun TV milik pemerintah Qatar mengatakan bahwa situs mereka dimatikan sementara karena adanya upaya peretasan.


Dalam perkembangan lain:

  • Mesir mendesak Dewan Keamanan PBB untuk melakukan penyelidikan atas tudingan bahwa Qatar membayar uang tebusan sekitar $1 miliar (Rp13 triliun) untuk pembebasan anggota keluarga kerajaan yang diculik saat berburu di Irak selatan
  • Menteri Luar Negeri Arab Saudi terbang ke Oman untuk melakukan pembicaraan namun tak ada rincian tentang agendanya. Oman sejauh ini belum terlibat dalam pengucilan Qatar.

Arab Saudi dan negara-negara lain memutuskan hubungan transportasi dan diplomatik pada hari Senin (5/6). Emir Kuwait mencoba menengahi sengketa ini, melakukan diplomasi bolak-balik antara Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Kepada wartawan di Doha pada hari Kamis (8/6), Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed mengatakan bahwa Qatar dikucilkan 'karena kami sukses dan progresif.'

"Kami adalah platform untuk perdamaian, bukan terorisme. Sengketa ini mengancam stabilitas seluruh kawasan," katanya. "Kami belum siap untuk menyerah, dan tidak akan pernah siap untuk menyerahkan kemerdekaan kebijakan luar negeri kami. "

Dia mengatakan bahwa Iran telah menawarkan penggunaan tiga pelabuhannya untuk pengapalan makanan dan air ke Qatar karena persediaan pangan menipis, namun dia mengatakan bahwa tawaran tersebut belum diterima.

Hak atas foto Reuters
Image caption Saudi Arabia dan sejumlah negara menutup jalur penerbangan dari dan ke Qatar.

Ihwal makanan, Qatar sangat bergantung pada impor dan krisis itu telah menyebabkan warga menimbun persediaan, dan terjadi kelangkaan.

Sheikh Mohammed mengatakan bahwa Qatar belum pernah jadi sasaran permusuhan seperti itu.

Dalam perkembangan lain, Rusia mengatakan bahwa hari Sabtu (10/6) besok, Sheikh Mohammed akan terbang ke Moskow untuk melakukan pembicaraan dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov.

Mereka akan membahas 'masalah internasional yang mendesak,' lapor kantor berita Tass, namun tidak ada rincian lebih lanjut.

Koresponden diplomatik BBC James Robbins mengatakan bahwa intervensi Rusia dapat memperumit upaya yang sedang dilakukan untuk meredakan situasi.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan Qatar harus memutuskan hubungan dengan kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir serta Hamas Palestina di wilayah-wilayah pendudukan, jika ingin agar pengucilan ini diakhiri.

Sementara itu, Bahrain telah bergabung dengan UEA, dengan mengancam untuk mememnjarakan siapa pun yang menyuarakan dukungan untuk Qatar.

"Setiap pernyataan simpati kepada pemerintah Qatar atau oposisi terhadap tindakan yang diambil oleh pemerintah Bahrain, baik melalui media sosial atau bentuk komunikasi lainnya, merupakan tindak pidana yang dapat dihukum lima tahun penjara dan didenda," kata sebuah pernyataan kementerian dalam negeri Bahrain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bahrain dan Uni Emirat Arab mengancam warganya dengan hukuman lima tahun penjara jika bersimpati pada Qatar.

Sementara itu, Turki, dalam sebuah langka nyata mendukung Qatar, mengesahkan sbuah undang-undang yang mengizinkan penambahan pasukan di pangkalan militer Qatar. Presiden Turki juga telah menawarkan peran penengahan.

Qatar juga merupakan lokasi pangkalan udara Amerika terbesar di kawasan ini.

Dalam percakapan telepon dengan Raja Salman dari Saudi, Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara Teluk untuk bersatu, namun sebelumnya dia mengaku berperan atas pengucilan Qatar dengan mengatakan bahwa hal itu menunjukkan bahwa kunjungannya baru-baru ini ke Arab Saudi 'ada hasilnya.'

Berita terkait