Para pengungsi Rohingya tinggal berjejalan di kamp Bangladesh

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Etnik Muslim Rohingya menanti pengakuan

Di wilayah tak lebih dari dua kilometer persegi saja terdapat 20.000 pengungsi Muslim Rohingya asal Myanmar di Leda, Teknaf, Cox's Bazar, wilayah pesisir Bangladesh selatan.

Inilah salah satu kamp di Bangladesh untuk pengungsi Rohingya, yang melarikan diri dari Myanmar karena mengaku mengalami penindasaan, diskriminasi, dan kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat kelompok minoritas Rohingya ini tinggal.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Khadija harus berjalan jauh dari gubuknya untuk mengambil air bersih di penampungan umum.

Letak geografis yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf menjadikan Bangladesh sebagai salah satu tujuan utama pelarian orang-orang Rohingya. Oleh sebab itu, jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh diperkirakan melebihi angka 400.000 orang.

Sebagian besar mereka menempati kamp-kamp di Distrik Coz's Bazar, wilayah terdekat dengan Rakhine.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Khadija mengaku beruntung dapat membesarkan putra-putranya di tempat yang ia anggap aman.

Di Kamp Leda, barak terbuat dari dinding bambu dan atap dari daun pinang ditambal dengan terpal. Adapun lantainya adalah tanah semata. Tungku tanah liat beserta beberapa peralatan dapur, bumbu, tikar tidur dan pakaian menyatu dalam satu ruang. Di musim hujan seperti pertengahan tahun sekarang, angin kencang kerap membuat atap-atap beterbangan.

"Dua keluarga tinggal bersama dalam satu petak barak tidaklah mudah, khususnya menyangkut makanan dan ruang gerak. Tidak ada ruang untuk bergerak. Ada pula masalah sanitasi. Semuanya menjadi masalah," ungkap Khadija, salah seorang pengungsi Rohingya.

Khadija, 25 tahun, punya dua putra masing-masing berusia tiga tahun kelahiran Myanmar, dan putra bungsunya, tujuh bulan, lahir di barak ini tepat 15 hari hari setelah tiba di Bangladesh pada November 2016, menyusul operasi militer di negara bagian Rakhine bulan sebelumnya.

"Air bersih terbatas. Setiap hari kami dapat dua ember air, jika ada cukup air maka anak-anak saya bisa mandi. Saya mandi sekali seminggu dan membawa air dari tempat penampungan yang agak jauh. Kalau suami sedang di rumah maka ia mengambil air."

Akses kesehatan

Khadija berbagi barak dengan bibinya yang juga punya anak berkebutuhan khusus. Praktis di barak ini hanya dihuni perempuan dan anak-anak karena suami Khadija buruh di kota dan tidak setiap minggu pulang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kawasan perbukitan di Cox's Bazar dikonversi menjadi kamp-kamp pengungsian sehingga merusak lingkungan, kata Bupati Mohammad Ali Hossain.

Keberadaan anak kecil tampak di mana-mana, sebagian tak berpakaian dan sebagian berpakaian lusuh tanpa alas kaki pula walaupun lingkungan tempat tinggal becek.

Keputusan politik Myanmar, yang mayoritas penduduknya Buddha, sejauh ini belum ada terkait pemecahan status Rohingya.

Di Myanmar, kelompok minoritas beragama Islam itu tidak diakui sebagai warga negara tetapi dianggap sebagai pendatang asal Bangladesh meskipun mereka telah hidup di Myanmar secara turun temurun. Myanmar tidak mengenal istilah Rohingya dan menggunakan sebutan 'orang-orang Bengali'.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mohammad Ali Hossain menuturkan bantuan dari berbagai lembaga luar negeri tak mencukupi untuk memenuhi segala keperluan pengungsi Rohingya.

Di Bangladesh, mereka juga tidak dianggap sebagai warga negara.

Menurut Bank Dunia, negara itu baru saja masuk kategori pendapatan menengah ke bawah dengan pendapatan per kapita antara US$1.006 dan US$3.955 (sekitar Rp13,5 juta-53 juta), status yang sudah diduduki Indonesia sejak 1990-an.

Kondisi ekonomi itu tak membantu memudahkan pemerintah setempat dalam mengurus pengungsi, kata Bupati Cox's Bazar, Mohammad Ali Hossain.

"Negara kami tidak kaya. Rata-rata penghasilan kami sangat rendah tetapi kami kesulitan mengubah nasib kami. Sumber daya di daerah-daerah terutama Cox's Bazar, tidak cukup. Sebagian besar kawasan terdiri dari hutan dan perbukitan. Lingkungan setempat dirusak oleh orang-orang ini, pohon-pohon dan kawasan perbukitan rusak dan oleh karenanya lingkungan kami tercemar."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dr Niranta Kumar Dash (kanan) memeriksa pasien bayi yang mengalami gegar.

Selain lingkungan, lanjutnya, layanan kesehatan juga digunakan di luar kapasitas.

"Bahkan fasilitas kesehatan kami begitu terbatas. LSM setempat dan LSM asing menyediakan sebagian bantuan tetapi tak cukup sehingga satu persoalan menimbulkan masalah lain yang kami hadapi," tegas Mohammad Ali Hossain dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di Cox's Bazar.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Para pasien mengantre untuk mendapatkan pengobatan di klinik kamp Leda.

Perawatan untuk luka di Myanmar

Masalah sanitasi dan kesehatan menjadi prioritas mendesak terutama di musim hujan seperti sekarang.

"Mereka sangat rentan, mereka terusir dari negara lain. Mereka tinggal di penampungan sementara jadi terdapat banyak persoalan kesehatan seperti layanan ibu melahirkan, penyakit-penyakit umum, seperti penyakit kulit, kekurangan air, rumah yang terkontaminasi," kata Koordinator Kesehatan Organisasi Migrasi Internasional (IOM), dr Niranta Kumar Dash.

Di samping itu, lanjut dr Dash, banyak di antara mereka masih perlu perawatan rutin karena luka-luka yang mereka alami di Myanmar.

"Banyak pula yang mengalami cedera akibat berjalan di kawasan perbukitan dan sebagian mengalami luka akibat kekerasan di Myanmar sehingga mereka mengalami luka potong lebih dari satu," jelasnya dalam wawancara di pusat kesehatan kamp pengungsi Leda, Teknaf.

Skala persoalan kesehatan itu terlihat jelas dari jumlah pasien yang mengantre untuk mendapatkan perawatan. Rata-rata pusat kesehatan IOM yang dijalankan oleh hanya 33 staf, mulai dari tingkat satpam hingga dokter, tersebut menangani 400-500 pasien setiap hari. ***

Tulisan ini adalah bagian dari laporan 17 Juli dan dalam acara radio Liputan Khas BBC Indonesia mulai Kamis, 29 Juni, dalam siaran pukul 05:00 WIB.

Topik terkait

Berita terkait