Dokter AS bantah klaim Korut soal mahasiswa yang koma

Otto Warmbier Hak atas foto Reuters
Image caption Otto Warmbier divonis menjalani kerja paksa selama 15 tahun pada 2016 karena mencuri plang propaganda. Selang 15 bulan kemudian, Warmbier dibebaskan dalam kondisi koma.

Sekelompok dokter Amerika Serikat tidak menemukan "tanda-tanda botulisme" pada tubuh mahasiswa AS yang dibebaskan pemerintah Korea Utara dalam kondisi koma.

Sebelumnya, Korut menyatakan kondisi koma yang dialami Otto Warmbier—nama mahasiswa tersebut—disebabkan botulisme dan pil tidur setelah menjalani persidangan.

"Kondisi sarafnya paling baik digambarkan sebagai keadaan sadar, namun tidak merespons," kata Daniel Kanter, salah seorang dokter yang tergabung dalam tim peneliti.

Kanter menambahkan, Warmbier "tidak menunjukkan pemahaman bahasa" dan "kehilangan sel saraf secara ekstensif" yang amat mungkin disebabkan oleh terhentinya fungsi jantung-paru

"(Kondisi Warmbier) bukan sesuatu yang biasa kami lihat pada cedera trauma otak. Jenis ini yang terjadi pada penghentian fungsi jantung-paru," kata Kanter.

Berdasarkan pemindaian di Pusat Medis Cincinnati awal pekan ini, tim dokter mengatakan bahwa tiada bukti Warmbier disiksa secara fisik selama ditahan.

Hak atas foto EPA
Image caption Tim dokter meyakini Warmbier mengalami penghentian fungsi jantung-paru.

Sementara itu, ayah Warmbier mengaku ragu dengan klaim Korut bahwa anaknya menderita botulisme.

"Kalaupun Anda percaya dengan penjelasan botulisme dan pil tidur menyebabkan koma—sedangkan kami tidak percaya—tiada alasan bagi sebuah negara beradab merahasiakan kondisinya dan tidak memberinya perawatan kesehatan tertinggi."

Otto Warmbier adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Virginia. Dia ditahan pada Januari 2016 saat mengunjungi Korut sebagai turis.

Dia dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun lantaran berupaya mencuri plang proganda Korut di sebuah hotel.


Apakah yang dimaksud dengan Botulisme?

Botulisme adalah keracunan yang menyebabkan kelumpuhan total pada tubuh, kesulitan bernapas, bahkan kematian pada beberapa kasus.

Pencetusnya adalah bakteri jenis clostridium botulinum. Kendati begitu, gejala botulisme bukan disebabkan bakteri itu sendiri, melainkan dari racun yang diproduksi organisme mikroskopis tersebut. Racun itu—yang disebut botulinum—kemudian menyerang sistem saraf dan mengakibatkan kelumpuhan.

Seseorang terpapar botulinum bisa dengan menyantap makanan yang terkontaminasi dengan racun tersebut, atau melalui luka.

Kontaminasi melalui makanan terjadi manakala bakteri clostridium botulinum tersimpan di kaleng atau dengan cara yang membuat organisme tersebut tidak mendapat pasokan udara. Jika itu terjadi, bakteri tersebut akan memproduksi racun.

Hal ini jarang terjadi pada makanan yang diproduksi di dunia Barat, namun Korut mengklaim itulah yang terjadi pada Otto Warmbier.

Berita terkait