Sindrom patah hati bisa mengakibatkan gagal jantung

Kondisi patah hati Hak atas foto ANA BELEN PREGO ALVAREZ/GETTY
Image caption Sindrom Takotsubo dipicu oleh tekanan emosional dan bisa menyebabkan penyakit gagal jantung.

Sebuah kondisi yang dikenal dengan 'sindrom patah hati' kemungkinan mengakibatkan kerusakan jangka panjang dan lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya, kata sebuah penelitian.

Sindrom ini bisa dipicu oleh tekanan emosional yang parah, seperti kematian orang yang dicintai, dan dapat menyebabkan penyakit gagal jantung sementara.

Hingga saat ini, diperkirakan sindrom patah hati bisa sembuh total, namun penelitian menyebutkan kondisi tersebut bisa mengakibatkan kerusakan jangka panjang.

Sindrom patah hati mempengaruhi lebih dari 3.000 orang per tahun di Inggris. Namun, terkadang sindrom itu menyerang orang-orang yang belum pernah mengalami stres emosional atau kehilangan seseorang yang dicintai sebelumnya.

Gejalanya mirip dengan serangan jantung dan sindrom yang kebanyakan menyerang kaum perempuan ini, biasanya didiagnosis di rumah sakit.

Gerakan memompa jantung

Dengan menggunakan pemindai ultrasound dan MRI terhadap 52 pasien yang menderita sindrom patah hati atau yang disebut Takotsubo, para peneliti dari Universitas Aberdeen mencermati fungsi jantung para responden.

Hasilnya menunjukkan bahwa sindrom tersebut secara permanen mempengaruhi gerakan memompa jantung. Otot yang memutar atau "memeras" saat jantung berdetak tertunda dan kekuatan gerakan meremas juga jadi berkurang.

Para periset juga menemukan bahwa bagian-bagian otot jantung tergantikan oleh bekas luka halus, yang mengurangi elastisitas jantung dan mencegahnya untuk berkontraksi dengan benar.

Dr Dana Dawson, yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan: "Kami terbiasa berpikir bahwa orang-orang yang menderita takotubo cardiomyopathy ini akan pulih sepenuhnya, tanpa campur tangan medis. Di sini kami diperlihatkan bahwa penyakit ini memiliki efek kerusakan lebih lama pada jantung orang-orang yang menderita penyakit ini."

Bentuk luka

Berbagai angka menunjukkan bahwa sekitar 3% sampai 17% orang-orang yang menderita dengan sindrom ini meninggal dalam waktu lima tahun setelah diagnosis.

Sekitar 90% penderita berasal dari kalangan perempuan dan pemicu stres diidentifikasi pada sekitar 70% kasus.

Prof Metin Avkiran, direktur medis di lembaga BHF, menambahkan: "Penelitian ini menunjukkan bahwa pada beberapa pasien yang terpapar sindrom Takotsubo, berbagai aspek fungsi jantung tetap tidak normal sampai empat bulan kemudian.

"Dan yang mengkhawatirkan, terdapat bentuk luka pada jantung para pasien ini, ini menunjukkan bahwa proses pemulihannya mungkin memakan waktu lebih lama, atau mungkin tidak akan sembuh, dengan pengobatan yang ada saat ini.

"Hal ini menyoroti kebutuhan untuk segera menemukan cara pengobatan baru dan lebih efektif untuk kondisi yang merusak ini."

Topik terkait

Berita terkait