Turis yang terkecoh santap anjing 'dibantah' pejabat Humas Bali

anjing di Bali Hak atas foto ANIMALS AUSTRALIA
Image caption Anjing-anjing yang malang dan ketakutan, yang akan menjalani pembunuhan keji sebelum jadi santapan sejumlah manusia.

Para turis asing di Bali, tanpa setahu mereka, menyantap daging anjing yang diracun atau dibunuh dengan cara lain yang sangat kejam, seperti diungkap dalam investigasi sebuah media Australia.

Banyak pedagang kakilima memasang tulisan 'RW' di depan warung mereka untuk menandakan bahwa mereka menjual daging anjing. Namun kebanyakan wisatawan asing tak paham dan sebagian penjual mengecoh mereka, seakan daging itu berasal dari hewan lain.

Laporan badan penyiaran Australian Broadcasting Corp, ABC, tersebut menyebutkan bahwa kasus ini dibongkar oleh Animals Australia.

Pejabat Humas Bali, Yadnya, dalam email ke BBC Indonesia menegaskan tidak ada pembantaian terhadap anjing di Bali.

"Justru di Bali anjing sangat disayang. Anjing menjadi simbol binatang yang setia sesuai dengan cerita Mahabharata. Kalau ada yang mengatakan bahwa daging anjing disajikan kepada turist di restoran, itu sama sekali tidak benar."

Hak atas foto ANIMALS AUSTRALIA
Image caption Makanan dari daging anjing dipromosikan sebagai 'RW,' sehingga banyak yang terkecoh, dan memang banyak pedagang yang mempedaya wisatawan, seakan itu daging hewan lain.

Yadnya menambahkan di Bali tidak ada orang yang menjual daging anjing ke restoran atau ke tempat-tempat umum.

"Untuk anjing dengan warna tertentu di Bali dipakai sebagai upacara dengan maksud memberi penghormatan kepada anjing tersebut, karena Umat Hindu percaya dengan reinkarnasi sehingga anjing tersebut dikemudian hari bisa berinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik," tambah Yadnya.

Hak atas foto ANIMALS AUSTRALIA
Image caption Daging anjing dijual sesudah dimasak dengan berbagai cara -dan dijual antara lain sebagai sate.

Bagaimanapun para penyelidik dari LSM perlindungan hewan Australia merekam pembunuhan terhadap anjing-anjing itu, selama empat bulan menyamar dan menyusup ke dalam jaringan perdagangan anjing di Bali.

Mereka berpura-pura sebagai pembuat film dokumenter yang tertarik dengan masakan lokal.

Para penyelidik yang menyamar itu diundang oleh seorang pemilik restoran untuk menyaksikan bagaimana orang-orang menangkap anjing di Kintamani, di utara Bali.

Mereka melihat sendiri, bagaimana hewan-hewan itu diracun dengan sianida.

Racun sianida tidak hancur sesudah dimasak, karenanya menyantap daging hewan yang diracun dengan sianida sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Kita akan terkena zat yang sangat beracun, karena sianida menjalar di seluruh tubuh anjing," kata Dokter Andrew Dawson, direktur Pusat Informasi Racun New South Wales kepada ABC dalam program tersebut.

Dibunuh dengan cara keji

Laporan itu juga mendokumentasikan bagaimana anjing dipukuli sampai mati, digantung di pohon, dan diracun.

Mereka memfilmkan anak anjing yang sedang makan kepala ikan yang sudah dicampur racun.

"Anak anjing itu menderita dalam waktu yang lama sesudah diracun, untuk kemudian mati, dan untuk pertama kalinya dalam karir saya, saya mematikan kamera," kata penyelidik itu.

"Saya duduk mengelus anjing saat dia mati dan meminta maaf kepadanya atas kekejaman manusia yang merupakan sesama saya."

Hak atas foto ANIMALS AUSTRALIA
Image caption Anjing-anjing itu dibunuh dengan cara kejam, yang membuat anggota LSM yang menyelidiki kasus ini terkadang mematikan kamerranya karena tak tega.

Lembaga perlindungan hak-hak hewan Bali menyerukan gubernur Bali agar melarang konsumsi daging anjing. Petisi daring mereka telah ditandatangani oleh hampir 75.000 orang.

Kelompok tersebut memperkirakan, setiap tahunnya di Bali terdapat 70.000 ekor anjing yang diracuni, ditembak, atau dipukul sampai mati kemudian dijual dagingnya.

Topik terkait

Berita terkait