Jet Rusia 'terbang sejarak 1,5 meter dari jet AS' di angkasa Laut Baltik

The US RC-135 reconnaissance plane Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesawat pengintai AS. RC-135 berukuran hampir sama dengan pesawat menumpang komersial.

Sebuah jet Rusia terbang dalam jarak 1,5 meter saja dari ujung sayap pesawat pengintai Amerika Serikat di atas Laut Baltik pada hari Senin, kata pejabat AS.

Ini jarak terbang yang dianggap 'tidak aman,' kata sejumlah pejabat.

Namun Rusia membantah tuduhan Amerika tersebut, dan balik menuduh bahwa pesawat AS melakukan gerakan 'provokatif' terhadap jet mereka.

Pada hari Senin, Rusia memperingatkan bahwa jet AS yang terbang di Suriah bisa menjadi sasaran pasukan mereka, setelah AS menembak jatuh jet yang dituduh AS melakukan serangan ke arah milisi yang didukung AS.

Pada hari Selasa, militer AS juga menembak jatuh drone bersenjata buatan Iran di Suriah, menambah ketegangan antara Washington dan Moskow, yang bersekutu dengan rezim Suriah.

Pencegatan pada hari Senin terjadi 40 km dari daerah Kaliningrad, kantong Rusia yang melewati perairan internasional.

Juru bicara Pentagon Kapten Jeff Davis mengatakan kepada wartawan: "Kami terbang di wilayah udara internasional dan tidak melakukan apapun untuk memprovokasi tindakan mereka."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebuah pesawat tempur SU-27 milik Rusia.

Pesawat pengintai RC-135 terbang dengan menghidupkan transpondernya, sehingga pesawat itu bisa dilihat pesawat lain, katanya pula.

Namun kementerian pertahanan Rusia mengatakan bahwa pesawat AS justru menunjukkan perilaku berbahaya sesudah dicegat dan digiring keluar oleh pesawat-pesawat jet SU27

Sekitar 10 menit kemudian, sebuah pesawat pengintai AS lainnya tidab, dan kemudian juga dicegat oleh sebuah jet SU-27, kata Pentagon.

Bulan ini AU AS mengirimkan 800 tentara dan pesawat pembom B-52 ke Inggris untuk bergabung dalam sebuah latihan perang NATAO.

Sejak Juni, kata seorang pejabat kepada CNN, terjadi lebih dari 30 interaksi antara pesawat-pesawat dan kapal-kapal AS dan Rusia di Laut Baltik.

Sebagian besar dianggap tidak berbahaya, katanya pula.

Berita terkait