Sulitnya merebut 'jantung kekuasaan kekhalifahan' ISIS di Raqqa

Petempur SDF dari etnik Kurdi Hak atas foto Reuters
Image caption Petempur SDF dari etnik Kurdi memandangi pusat kota Raqqa di Suriah.

Aliansi petempur Kurdi-Arab yang didukung Amerika Serikat, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sudah menguasai pinggiran Raqqa, ibu kota 'kekhalifahan' kelompok ISIS di Suriah dalam beberapa pekan terakhir.

Aksi merebut pinggiran Raqqa dilakukan dalam waktu relatif cepat. Namun seperti dilaporan wartawan BBC dari medan pertempuran, Gabriel Gatehouse, upaya menguasai Kota Lama di Raqqa, yang oleh ISIS disebut sebagai 'jantung kekuasaan ISIS' berjalan sangat lambat.

Gatehouse bersama satu unit petempur SDF berada hanya beberapa ratus meter dari kawasan Kota Lama.

Gerak SDF berjalan lambat karena mereka menghadapi pesawat terbang tak berawak atau drone, terowongan, bom bunuh diri dan penembak jitu. "Pertempuran untuk merebut (jantung kota) Raqqa akan berlangsung lama dan sengit," kata Gatehouse.

Drone ISIS bukan senjata yang gampang dilumpuhkan. Bentuknya yang kecil dengan gerakan lincah ini dioperasikan untuk menjatuhkan granat ke tentara atau petempur SDF yang bergerak menuju pusat kota.

Sering datang tiba-tiba, drone bersenjata milik ISIS dalam satu hari bisa melakukan serangan hingga 16 kali, kata seorang petempur SDF yang bersama beberapa rekannya berlindung di satu rumah tak jauh dari Kota Lama.

Penembak jitu ISIS

Kepada situs berita France24, petempur ini mengatakan bahwa drone ISIS menyulitkan tim penembak jitu SDF menempati posisi di atap-atap gedung.

"Selain menyasar penembak jitu, drone ISIS juga menghancurkan gudang senjata, logistik, dan kendaraan kami," katanya.

Image caption Delilah, salah satu penembak jitu SDF, mengatakan dirinya bahagia setiap kali menewaskan anggota ISIS di Raqqa.

Gerak maju tentara SDF dilakukan dari rumah ke rumah agar tak terdeteksi oleh petempur dan drone ISIS. Dalam rekaman video yang diperoleh France24 terlihat bagaimana satu unit SDF harus berlindung begitu drone ISIS terlihat di angkasa.

Komandan SDF langsung memerintahkan anak buahnya berlindung begitu drone ISIS mendekat. "Ayo, segera berlindung. Cepat!" teriaknya.

Insiden seperti ini bisa terjadi dua atau tiga kali dalam sehari, sering kali lebih dari itu.

Yang juga sering datang tiba-tiba adalah peluru dari para penembak jitu ISIS, seperti yang dialami wartawan BBC Gabriel Gatehouse dan satu unit petempur SDF saat berada di satu gedung.

Dari arah depan terdengar tembakan beruntun dan seseorang berteriak, "Awas penembak jitu!"

Terowongan rahasia

Salah seorang petempur perempuan SDF dengan sigap merebah dan dengan senjata laras panjang ia memuntahkan peluru ke arah posisi penembak jitu ISIS. Perempuan ini bernama Delilah, mahasiswi jurusan keperawatan namun sekarang bergabung sebagai penembak jitu SDF.

"Ketika peluru mengenai sasaran dan menewaskan musuh, saya merasa sangat bahagia," kata Delilah dengan senyum lebar kepada BBC. "Ini menambah semangat dan menambah kekuatan kami."

"Kami melindungi kawan dan warga kami," katanya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Video online

Ketika BBC dan unit SDF bergerak perlahan ke pusat kota, mereka bertemu dengan unit SDF lain yang baru saja selesai bertugas pada malam sebelumnya.

Mereka bertempur semalaman melawan ISIS yang melancarkan serangan dari jaringan terowongan rahasia.

"Mereka mengepung kami. Mereka menembak dari segala arah," kata seorang petempur Arab bernama Mashuk.

"Mereka menangkap salah seorang anggota kami, namun kami berhasil mendapatkannya kembali," kata Mashuk.

Topik terkait

Berita terkait