Di Indonesia, Barack Obama jauh lebih populer dibanding Donald Trump

Barack Obama Hak atas foto EPA
Image caption Barack Obama, yang tengah berlibur di Indonesia, secara global jauh lebih populer dibandingkan penggantinya, Donald Trump.

Popularitas Barack Obama jauh mengungguli Donald Trump di 37 negara, termasuk Indonesia, menurut survei terbaru yang dilakukan lembaga kajian Amerika Serikat, Pew Research Center.

Data yang dihimpun para peneliti di lembaga tersebut memperlihatkan tingkat keyakinan secara global terhadap Presiden Trump dan berbagai kebijakannya di bidang urusan internasional rata-rata hanya 22%.

Di Indonesia, angkanya 1% di atas rata-rata untuk Presiden Trump -jadi sebesar 23%- namun di sisi lain, tingkat keyakinan global terhadap tahun-tahun terakhir masa kepresidenan Obama mencapai 64%.

Selisih di Indonesia yang mencapai 41% antara kedua pemimpin itu tergolong yang tertinggi untuk kawasan Asia.

Penurunan tajam keyakinan terhadap presiden AS terutama terlihat di sekutu-sekutu dekat di Eropa, Asia, dan negara-negara tetangga seperti Kanada dan Meksiko.

Dari 37 negara yang disurvei, Trump hanya unggul di Israel dan Rusia.

Tingkat keyakinan terhadap Presiden Trump dipengaruhi oleh karakter kepribadian dan sejumlah kebijakan yang ia umumkan dalam masa kepemimpinannya yang baru berjalan beberapa bulan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kebijakan Trump, seperti upaya melarang masuknya warga dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim ke AS, sangat tidak populer di hampir 37 negara yang disurvei.

Untuk kebijakan penting, beberapa di antaranya ditentang secara luas secara global, misalnya rencana membangun tembok pemisah di perbatasan AS-Meksiko dan keputusan untuk mundur dari perjanjian perdagangan dan perubahan iklim.

Bagaimana dengan Xi, Putin, dan Merkel?

Yang paling banyak dikecam adalah upaya pemerintah Trump membatasi masuknya warga dari negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim.

Penentangan terbesar berasal dari Yordania, Lebanon dan Senegal. Empat negara mendukung rencana tersebut: Hungaria, Israel, Polandia, dan Rusia.

Dari lima rencana kebijakan penting Trump yang dimasukkan ke dalam survei, tak satu pun yang mendapat dukungan luas.

Saat masih menjadi capres, Trump berjanji untuk membatalkan perjanjian nuklir AS-Iran, tekad yang sejauh ini belum ia wujudkan. Namun secara global, hampir semua negara menolak rencana kebijakan tersebut, dengan pengecualian dua negara, yaitu Israel dan Yordania.

Kepribadian Trump juga menjadi faktor penentu bagaimana warga di sejumlah negara melihat dirinya.

Dalam pandangan hampir semua orang yang disurvei, Trump dianggap arogan, tidak toleran, dan bahkan berbahaya.

Untuk sisi positif, Trump dinilai sebagai pemimpin yang kuat di beberapa negara.

Sisi positif lainnya adalah karismatik, berkemampuan, dan peduli dengan rakyat biasa, meski yang menganggapnya demikian tak terlalu banyak.

Selain menakar pandangan global terhadap Presiden Trump, survei Pew juga meminta pendapat terhadap Presiden Cina Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan pemimpin Jerman Angela Merkel.

Di 37 negara, baik Xi maupun Putin sama-sama mendapatkan nilai yang buruk, dengan tingkat keyakinan masing-masing berada pada 28% dan 27%.

Merkel mendapatkan tingkat keyakinan yang jauh lebih baik, pada kisaran 42%.

Sementara di dalam negeri, juga berdasarkan laporan Pew baru-baru ini, tingkat dukungan atas Trump tetap rendah sejak menjabat presiden, dengan hanya 39% yang berpendapat dia melakukan pekerjaan yang baik.

Angka itu anjlok menjadi 7% di kalangan para warga kulit hitam.

Bagaimanapun tetap ada dukungan kuat atas Trump di kalangan partainya sendiri: 81% yang merupakan anggota atau cenderung ke Partai Republik menyatakan dia bekerja dengan baik.

Angka itu meningkat menjadi 88% di kalangan orang-orang yang mengaku lebih konservatif.

Berita terkait