Apakah blokade politik dan ekonomi terhadap Qatar selamanya?

Doha Hak atas foto Reuters
Image caption Negara-negara tetangga di Teluk memutus hubungan diplomatik dengan Qatar sejak awal Juni 2017.

Qatar diultimatum negara-negara tetangga di kawasan Teluk agar segera memenuhi 13 tuntutan dengan imbalan blokade politik dan ekonomi yang diterapkan sejak beberapa pekan terakhir.

Namun hingga Rabu (28/06) tidak ada tanda-tanda dari pemerintah di Doha untuk memenuhi permintaan tersebut, di antaranya menghentikan dukungan finansial terhadap kelompok teroris dan menghentikan siaran TV Al Jazeera.

Tuntutan lain adalah mengurangi hubungan dengan Iran. Sejak awal, Qatar membantah tuduhan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir bahwa mereka mendanai kelompok atau organisasi teroris.

"Sejauh ini tidak ada tanggapan positif dari Qatar," ujar Omar Ghobash, juru bicara pemerintah Uni Emirat Arab kepada wartawan keamanan BBC, Frank Gardner.

Jika situasi seperti ini terus berlanjut, yang akan terjadi adalah negara-negara Teluk akan mengucilkan Qatar hingga batas waktu yang tak ditentukan, tambahnya.

Terbuka kemungkinan, kata mantan dubes Uni Emirat Arab untuk Moskow ini, bahwa Qatar dicoret dari keanggotaan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), meski mungkin keputusan ini tidak diambil dalam waktu dekat.

Tidak adanya tanda-tanda solusi atas krisis Qatar dikhawatirkan akan membuka lebar konflik bersenjata. Ghobash mengatakan kalau pun krisis berubah menjadi konflik militer, maka itu tidak akan berawal dari tetangga-tetangga Qatar.

"Mereka punya pemerintah yang memutuskan untuk mengabaikan kami... kami akan memutus semua hubungan dengan Qatar, baik secara ekonomi, politik, dan bahkan sosial," kata Ghobash.

Isolasi tak terbatas

Hak atas foto Frank Gardner
Image caption Omar Ghobash, juru bicara pemerintah Uni Emirat Arab, mengecilkan kemungkinan krisis Qatar berubah menjadi konflik militer.

Qatar diberi waktu hingga 3 Juli untuk memenuhi tuntutan. Apa yang akan terjadi setelah 3 Juli?

"Perbedaan sebelum dan setelah 3 Juli adalah kami tidak akan lagi tertarik melibatkan Qatar dalam urusan negara Teluk dan Timur Tengah," katanya.

Implikasi lain pengucilan Qatar adalah salah satu negara dengan pendapatan per kapita terbesar di dunia ini akan menguatkan hubungan dengan Iran, pesaing utama Saudi di kawasan.

"Sudah sejak lama Qatar dekat dengan Iran dan kelompok Sunni ekstrem. Kemungkinan mereka makin dengan Iran adalah sesuatu yang sudah diperkirakan. Namun sekarang, menjadi makin jelas, siapa kawan dan siapa lawan," tegas Ghobash.

Qatar punya hubungan dekat dengan Iran dan Turki dan kedua negara ini langsung memberikan dukungan dan bantuan saat Qatar mengalami blokade.

Turki memiliki pangkalan militer di Qatar, yang diminta Saudi dan kawan-kawan agar segera ditutup.

Yang terjadi adalah Turki memasukkan sejumlah kendaraan lapis baja yang sudah terlihat di jalan-jalan di Doha sejak akhir pekan. Ada isyarat Turki menambah jumlah personel keamanan di Qatar.

Ini yang membuat Bahrain menuduh Qatar memicu 'eskalasi militer'.

Hak atas foto Reuters
Image caption Turki memasukkan tambahan kendaraan lapis baja ke ibu kota Qatar, Doha.

Siapa yang efektif menjadi penengah?

Untuk sementara ini, mediasi antara Qatar dan koalisi Saudi dilakukan oleh Kuwait yang belum memperlihatkan hasil positif.

Semua orang paham bahwa pada akhirnya hanya Amerika Serikat yang bisa mengatasi krisis Qatar.

Kementerian Pertahanan AS menempatkan 11.000 tentara di pangkalan udara Al-Udaid, yang juga berfungsi sebagai Pusat Komando. Dari sinilah militer AS mengatur dan mengoordinasi operasi di seluruh Timur Tengah.

Di permukaan Washington belum mengajukan solusi kongkrit.

Yang pasti, semakin lama keadaan ini berlangsung, makin tidak jelas pula arah operasi militer pimpinan AS terhadap kelompok ISIS di kawasan.

Berita terkait