Tiga wartawan Myanmar ditahan karena meliput kegiatan pemberontak

Myanmar, media Hak atas foto AFP/SOE THAN WIN
Image caption Militer menangkap tiga wartawan karena meliput pemusnahan narkotika gelap oleh salah satu kelompok etnik bersenjata.

Sejumlah lembaga media di Myanmar sudah mengirim surat terbuka kepada pemerintah untuk menuntut pembebasan tiga wartawan yang ditahan militer.

Ketiganya ditangkap setelah meliput pemusnahan narkotika gelap yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang, TNLA, salah satu kelompok etnik bersenjata di Myanmar.

Penangkapan mereka didasarkan pada undang-undang zaman kolonial yang melarang kontak dengan para pemberontak dan diancam hukuman tiga tahun penjara.

"Benar mereka melanggar hukum karena bertemu dengan kelompok etnik," kata Win Htein -salah seorang staf senior Aung San Suu Kyi's- kepada media pemerintah, Central News Bureau. Htein sendiri pernah menjadi tahanan politik pada masa pemerintahan rezim militer.

Militer Myanmar mengatakan menangkap tiga wartawan bersama empat orang lainnya di dekat kampung Phayargyi di negara bagian Shan, tak jauh dari medan pertarungan antara TNLA dan militer.

Hak atas foto Reuters
Image caption Beberapa pihak khawatir kebebasan pers di Myanmar semakin tergerus, seperti terungkap dalam sebuah unjuk rasa pada awal Juni.

Seruan pembebasan juga disampaikan oleh lembaga pegiat wartawan internasional yang berpusat di Amerika Serikat, The Committee to Protect Journalists, yang menyebutnya sebagai 'penghinaan atas demokrasi di Myanmar'.

Penangkapan atas wartawan ini dilihat sebagai kemunduran kebebasan pers di negara itu, setelah rezim militer mundur tahun 2011 yang membuka jalan bagi pemerintahan sipil pimpinan Aun San Suu Kyi, yang secara resmi menjabat penasehat negara.

Sebelum penangkapan ini, media setempat melaporkan pekan lalu berlangsung kontak senjata antara tentara dengan TNLA setelah ditemukannya yang diduga sebagai pusat pelatihan kelompok bersenjata tersebut.

Topik terkait

Berita terkait