Iran tandatangani kesepakatan gas dengan Total Prancis

Iran, gas Hak atas foto Reuters
Image caption Beberapa pihak memperkirakan cadangan gas Iran merupakan yang terbesar di dunia.

Perusahaan minyak dan gas raksasa dari Prancis, Total, sudah menandatangani sebuah kesepakatan bernilai miliaran dolar dengan Iran.

Kesepakatan yang ditandatangani Senin (03/07) tersebut merupakan yang terbesar antara Iran dan perusahaan Eropa sejak dicabutnya sanksi internasional atas Iran dua tahun lalu.

Total akan menjadi pemegang saham terbesar dalam pengembangan ladang gas South Pars bersama dengan mitranya, yaitu perusahaan lokal Iran dan perusahaan Cina.

Proyek pengembangan itu diperkirakan berjalan selama 20 tahun.

Wartawan ekonomi BBC, Andrew Walker, mengatakan bahwa pengembangan industri gas Iran masih jauh di bawah potensinya dan beberapa pihak memperkirakan cadangan gas Iran merupakan yang terbesar di dunia.

Meskipun mempunyai potensi besar, Iran saat ini bukan merupakan pengekspor gas utama, antara lain karena kurangnya investasi.

Hak atas foto EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Image caption Total dilaporkan akan menyuntik modal sekitar Rp65 triliun untuk pengembangan ladang gas South Pars.

Pencabutan sanksi ekonomi atas pemerintah Teheran, setelah tercapainya kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara Barat, agaknya membuat banyak perusahaan asing yang mulai tertarik untuk terlibat di Iran.

Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namadar Zangane, mengatakan kesepakatan dengan Total merupakan hasil langsung dari terpilihnya kembali Presiden Hassan Rouhani bulan Mei lalu -yang dianggap berpandangan moderat- serta dukungan dari rakyat Iran.

"Rakyat mengatakan dengan tegas bahwa kebijakan minyak kami seharusnya berlanjut. Kami tidak akan lupa Total berada di baris depan," tuturnya seperti dikutip kantor berita AFP.

Laporan-laporan menyebutkan Total akan menyuntik modal sebesar US$4,9 militar atau sekitar Rp65 triliun, yang dilihat sebagai 'wujud keyakinan terbesar' atas republik Islam tersebut sejak pencabutan sanksi internasional tahun 2015.

Namun kesepakatan Total dengan Iran ini dibayang-bayangi dengan pandangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang lebih kritis terhadap pemerintah Teheran.

Pada masa kampanye, Trump bahkan sempat mengancam akan mengabaikan kesepakatan nuklir tahun 2015 lalu dan pemerintahannya sedang mengkaji ulang kesepakatan itu.

Topik terkait

Berita terkait