WNI di kamp pengungsi Suriah kembali tekankan: 'Kami tertipu ISIS' dan ingin pulang

kamp ain issa Hak atas foto Omar Allouche
Image caption Dilfansyah (kiri) bersama petugas kamp dan Nur.

WNI yang sebelumnya berada di wilayah ISIS dan telah berada di kamp pengungsi Suriah, Ain Issa, selama tiga minggu ini, kembali mengatakan tertipu dan benci kelompok militan itu serta ingin segera pulang.

Dilfansyah Rahmani, yang bersama sembilan perempuan lain dan tiga anak-anak di kamp pengungsi, merekam suaranya melalui bantuan petugas di kamp, Omar Allouche, yang mengirimkannya kepada BBC Indonesia.

Dilfansyah mengatakan lima laki-laki yang pergi bersama mereka saat ini berada di penjara Kobane, Suriah. Dia tak merinci lebih lanjut.

Namun seorang petugas dari kelompok pegiat hak asasi Human Rights Watch yang berada di kamp itu, Ole Solvang, mengatakan pemerintah Suriah biasanya memang menahan atau memenjara mereka yang keluar dari wilayah ISIS.

"Laki-laki (yang bersama kami) tak ada yang pernah berperang bersama Daesh (Daulat Islmaiyah/ISIS). Tak ada sama sekali. Kami semua benci sama mereka dan kami tertipu oleh mereka. Kami ingin ke luar dari Daesh lebih dari setahun lalu, namun baru bisa menemukan jalan ke luar sekarang."

"Kami di sini sudah tiga minggu dan ingin sesegera mungkin kembali ke Indonesia," kata Dilfansyah, yang mengharapkan bantuan dari pemerintah Indonesia.

Menurut Solvang, sekitar 12.000 orang berada kamp Ain Issa dan sebagian besar adalah warga Suriah yang menyelamatkan diri dari perang antara pemerintah melawan ISIS di desa-desa mereka.

Hak atas foto Omar Allouche
Image caption WNI di Kamp Ain Issa berjumlah sembilan perempuan dan tiga anak

Sebagian kecil adalah keluarga asing, termasuk dari Indonesia, Tunisia dan juga dari Rusia, kata Solvang, yang sudah bertemu dengan sembilan perempuan Indonesia di Ain Issa.

"Mereka mengatakan ingin kembali ke Indonesia tapi menunggu lima pria yang pergi bersama mereka. Kelima pria berada di penjara Kobane, jadi terpisah waktu keluar."

"Saya tak tahu mengapa (mereka dipenjara), tapi sering terjadi bahwa pemerintah menahan orang yang keluar dari Raqqa dan diperiksa apakah mereka angggota ISIS atau terkait dengan organisasi terkait ISIS."

'Anda lihat video pemenggalan dan memutuskan bergabung dengan ISIS?'

"Mungkin mereka (pria itu) discreening untuk diperiksa apa yang mereka lakukan," tambahnya.

"Sebagian orang asing yang kami tanyakan mengatakan pergi ke Raqqa tanpa menyadari apa itu ISIS dan ingin ke luar tapi tak bisa. Ada yang suaminya ISIS, tapi kami tak bisa pastikan," kata Solvang.

Pegiat dari Human Rights Watch tersebut juga mengatakan kondisi di kamp saat ini sangat panas dengan suhu yang mencapai 45'C.

Hak atas foto Twitter

Dalam rekaman yang didapat BBC Indonesia 23 Juni lalu, Dilfansyah mengatakan, "Kondisi kami di sini juga banyak yang sakit sakitan, uang semakin menipis."

Kamp Ain Issa berada sekitar 50 kilometer di utara Raqqa, yang saat ini digempur oleh pasukan pemerintah Suriah dengan bantuan militer Amerika Serikat. Ribuan orang ke luar dari Raqqa dan banyak yang ditampung di Ain Issa.

Kepada kantor berita AFP pertengahan Juni, Dilfansyah mengatakan bahwa yang dilakukan ISIS, "Semua bohong... ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet."

Jenan Moussa, reporter TV Arabic Al Aan, yang berkunjung ke kamp itu akhir Juni lalu, melalui akun Twitternya, menulis bertemu dengan perempuan asal Indonesia itu.

"Perempuan Indonesia mengatakan kepada saya, ISIS menipu kami dengan propaganda, dan saya katakan, "Anda melihat video pemenggalan dan memutuskan bergabung dengan ISIS? Tak ada jawaban," tulis Moussa.

Berita terkait