Ekstrimis Yahudi divonis bersalah membakar 'gereja mukjizat' Jesus

gereja Hak atas foto AFP
Image caption Selain menghanguskan gereja, serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada toko dan bangunan lainnya di kompleks Gereja Multiplication.

Seorang ekstrimis Yahudi dijatuhi hukuman penjara karena terbukti membakar sebuah gereja di Israel yang diyakini oleh penganut Kristen dibangun di salah satu lokasi mukjizat Yesus.

Pengadilan Negeri Nazaret memvonis Yinon Reuveni, yang berusia 22 tahun, bersalah melakukan pembakaran gereja tersebut.

Majelis hakim menyebut Reuveni mengobarkan api di Gereja Katolik Roma di Tabgha, diwilayah Laut Galila, pada 2015.

Gereja ini disebut sebagai tempat Jesus melakukan mukjizat dengan memberi makan 5000 orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan, atau lebih dikenal sebagai pemberian makanan bagi 5000 orang.

Selain menghanguskan gereja, serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada toko dan bangunan lainnya di kompleks Gereja Multiplication.

Bahkan, di salah satu dinding ditemukan tulisan dalam bahasa Ibrani, "Berhala akan dienyahkan atau dihancurkan."

Hak atas foto AFP
Image caption Gereja tersebut dibuka kembali secara resmi pada Febuari 2017 setelah diperbaiki selama delapan bulan.

Untungnya, kobaran itu tidak menghancurkan lantai mozaik peninggalan abad kelima yang menjadi ciri kunci dari gereja modern yang dibangun di lokasi ini.

Surat dakwaan terhadap Reuveni menyebut bahwa dia membakar gereja tersebut karena sikap permusuhannya tehadap agama Kristen.

Media lokal melaporkan bahwa pemuda tersebut juga terlibat beberapa kejahatan kebencian dan memiliki keterkaitan dengan ekstrimis lainnya sebelum menyerang gereja tersebut.

Tersangka kedua, Yehuda Asraf, 21 tahun, dibebaskan dari dakwaan. Sementara itu, tersangka ketiga masih menunggu persidangan, seperti dilaporkan Times of Israel.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan Jaksa Penuntut Umum Avi Pasternak mengatakan vonis pengadilan tersebut menguatkan tindakan terorisme yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Kendati demikian, pengacara Itamar Ben Gvir menuduh hakim mengabaikan fakta dan kliennya menyatakan akan mengajukan banding.

Gereja tersebut dibuka kembali secara resmi pada Febuari 2017, setelah diperbaiki selama delapan bulan dengan biaya sekitar $1 juta (£ 800.000).

Berita terkait