Apakah isu Rohingya berpotensi 'menjadi medan' jihad?

Diskusi masalah Rakhine Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Diskusi masalah Rakhine yang digelar di Rangon pada Juni 2017 dihangatkan oleh perdebatan status Rohingya atau istilah resmi Myanmar, orang Bengali atau orang Muslim.

Otorita Myanmar menyatakan telah melakukan sejumlah penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat dalam aksi yang disebut terorisme.

Aksi itu, jelas pihak berwenang, terinspirasi oleh Islam ekstrem yang mendukung Rohingya, kelompok minoritas Muslim yang pada umumnya tinggal di negara bagian Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh.

Rohingya tidak diakui sebagai etnik di Myanmar dan lazimnya disebut sebagai orang-orang Bengali atau orang-orang Muslim yang datang dari Bangladesh meskipun para aktivis dan orang Rohingya mengaku bahwa mereka adalah asli Rakhine.

Penangkapan-penangkapan terjadi menyusul peristiwa yang dilaporkan sebagai pergolakan kecil di Rakhine oleh beberapa militan Rohingya bersenjata tajam yang menyerang petugas penjaga pos perbatasan pada 9 Oktober 2016. Pihak berwenang Myanmar menuding mereka dipimpin oleh seorang militan Rohingya, tinggal di luar Myanmar, dan pernah dilatih oleh Taliban di Pakistan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kelompok Rohingya di Rakhine dilaporkan tidak mendukung jalan kekerasan untuk memperjuangkan nasib mereka.

Namun klaim keberadaan kelompok paramiliter dan aktivitas mereka hingga kini belum dapat dibuktikan secara gamblang, terlepas dari pengakuan beberapa pihak dan beredarnya video pelatihan di media sosial.

BBC Indonesia berusaha mewawancarai seorang Rohingya yang disebut mengadakan latihan paramiliter untuk pemuda Rohingya di kamp-kamp pengungsian Bangladesh, tetapi kemudian menolak dengan alasan rekannya ditemukan dibunuh di Myanmar setelah berbicara kepada media tentang latihan paramiliter. Rekannya yang dibunuh itu sempat menyusup ke wilayah Myanmar.

Perjuangan nonkekerasan

Seorang aktivis Rohingya di Rakhine, Omar Faruk mengatakan tak masuk akal orang-orang Rohingya menggalang kekuatan untuk perlawanan bersenjata.

"Untuk makan kenyang setiap hari saja kami kesulitan, apalagi untuk kegiatan-kegiatan bersenjata. Mana mungkin?"

"Menurut saya, tuduhan latihan paramiliter di Arakan (Rakhine) tidak mungkin karena militer Burma (Myanmar) dikerahkan di mana-mana sejak 2012 dan tidak ada ruang bagi Rohingya untuk melibatkan diri dalam kegiatan apapun untuk melawan pemerintah Myanmar," tegas Omar Faruk.

Ditegaskan Rohingya berjuang lewat jalan nonkekerasan melalui perundingan dan diplomasi meskipun sejauh ini hasilnya belum tampak.

Yang dituduh sebagai pemberontakan Rohingya, lanjutnya, mungkin tak lebih dari gerakan kecil yang dikendalikan oleh orang-orang-orang Rohingya di luar Myanmar yang mungkin ayah mereka dibunuh atau ibu mereka diperkosa dalam gelombang kekerasan pada 2012.

Ia menggarisbawahi bahwa perlawanan semacam itu tak didukung dan juga tak melibatkan akar rumput di Rakhine.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Inilah suasana salah satu sudut Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine. Longyi atau sarung biasa dikenakan oleh pria tanpa memandang latar belakang agama.

Penilaian ini tampaknya sejalan dengan laporan International Crisis Group pada Desember 2016 bahwa tidak ada terorisme transnasional bersentimen Islam ekstrem di negara bagian Rakhine. Yang ada lebih merupakan perlawanan pimpinan Rohingya di luar negeri yang bergerak secara diam-diam.

Jadi perjuangan Rohingya tampaknya lebih terinspirasi oleh kepentingan sosiopolitik kelompok tersebut untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu suku di Myanmar dan sekaligus pengakuan kewarganegaraan ketimbang perjuangan berhaluan Islam.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Tun Shwe Khine (kiri), sejarawan pemerintah Myanmar, mengaku menemukan bukti penggalangan dana untuk pelatihan militer Rohingya.

Bagaimanapun, Tun Shwe Khine -sejarawan pemerintah yang telah menulis beberapa buku tentang konflik di Rakhine- menegaskan memang ada potensi jihad di negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Buddha itu.

"Sebagian kaum fundamental di Dhaka (ibu kota Bangladesh) mendukung kekerasan di Rakhine (mendukung Rohingya). Saya punya buktinya. Mereka menyebarkan pamflet di Timur Tengah, misalnya di Qatar, Abu Dhabi, Bahrain menyulut emosi orang. Di pamlet dicantumkan nomor rekening bank di Chittagong, minta dana untuk operasional petempur mujahidin. Jadi situasi ini tidak baik," jelasnya kepada BBC Indonesia.

Bupati Cox's Bazar, Bangladesh, Mohammad Ali Hossain, yang wilayahnya hanya dipisahkan oleh Sungai Naf dengan Rakhine, menepis singkat sinyalemen bahwa wilayahnya digunakan untuk latihan paramiliter Rohingya, "Tidak, tidak."

Warga Indonesia berjihad?

Peringatan kemungkinan Rakhine menjadi tujuan jihad untuk mendukung Muslim Rohingya juga berasal dari luar Myanmar. Kepala divisi kontraterorisme Kepolisian Diraja Malaysia, Ayob Khan Mydin Pitchay, mengatakan ancaman serangan oleh pendukung kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) dari luar Myanmar semakin besar.

Ia melandasi peringatannya berdasarkan penangkapan-penangkapan simpatisan ISIS di Malaysia yang berencana masuk ke Myanmar untuk melancarkan serangan, termasuk penangkapan seorang warga negara Indonesia pada Januari 2017.

Ditambahkan oleh Ayob Khan bahwa warga negara Indonesia yang ditangkap di Malaysia tersebut berencana melawan pemerintah Myanmar atas nama Rohingya di negara bagian Rakhine dan upaya orang itu kemungkinan akan diikuti oleh lebih banyak militan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ito Sumardi diundang oleh otoritas Myanmar untuk menyaksikan kondisi di Rakhine setelah penembakan pos perbatasan Myanmar-Bangladesh pada 9 Oktober 2016.

Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, tidak menampik kemungkinan militan Islam, termasuk dari Indonesia, yang ingin mendukung Rohingya melalui jalan kekerasan.

"Kita tarik ke belakang ketika ISIS mendeklarasikan negara-negara yang mungkin menjadi target. Salah satu negara targetnya adalah Myanmar khususnya di daerah Rakhine," kata mantan Kabareskrim di Mabes Polri itu.

"Kenapa di sana? Karena di sana ada gerakan yang namanya RSO (Rakhine Solidarity Organisation) yang masuk ke dalam daftar kelompok teroris versi Amerika Serikat."

Setelah ISIS tercerai berai, ratusan pendukung ISIS dari Indonesia kembali dari Suriah. Menurutnya, sebagian dari mereka melakukan kegiatan di Indonesia, sebagian bergabung ke Filipina selatan, dan sebagian lagi masuk ke Malaysia.

"Nah yang di Malaysia ada indikasi mereka akan berangkat ke Myanmar. Kita perlu tahu sistem pengawasan orang asing di Myanmar sangat ketat tapi tidak menutup kemungkinan kalau mereka masuk dari Bangladesh karena perbatasan di sana sangat sulit diawasi," jelas Dubes Ito Sumardi.

Ia melihat langsung kondisi perbatasan negara bagian Rakhine yang terdiri dari wilayah perbukitan, hutan dan rawa yang hanya dipisahkan oleh Sungai Naf yang membentang sekitar lima kilometer dari Bangladesh.

Kendati tidak menutup kemungkinan potensi pendukung ISIS dari Indonesia masuk ke Rakhine, menurut Dubes Ito Sumardi, sejauh ini belum ada informasi resmi WNI berjihad di sana. ***

Laporan ini merupakan bagian dari seri khusus pengungsi Rohingya di Bangladesh dan Myanmar. Anda bisa memberikan komentar atas berita ini di Facebook BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait