Gencatan senjata di Suriah mulai diberlakukan, Yordania menjadi penjamin

suriah Hak atas foto AFP
Image caption Lebih dari 300.000 orang telah kehilangan nyawa selama perang Suriah, yang diawali unjuk rasa anti-pemerintah pada 2011.

Gencatan senjata antara pasukan pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak yang difasilitasi Amerika Serikat, Yordania dan Rusia akan diberlakukan mulai hari Minggu (09/07).

Otoritas Yordania mengatakan gencatan senjata itu akan berlangsung di sepanjang garis yang disepakati kedua pihak yang bertikai.

Keputusan untuk menghentikan saling serang ini diumumkan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin secara langsung untuk pertama kalinya di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Jerman, Jumat (07/09).

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas berbagai topik, dan salah satu diantaranya adalah penyelesaian perang di Suriah.

Lebih dari 300.000 orang telah kehilangan nyawa selama perang Suriah, yang diawali unjuk rasa anti-pemerintah pada 2011.

Hak atas foto AFP
Image caption Keputusan untuk menghentikan saling serang ini diumumkan setelah Presiden As Donald Trump bertemu Presidn Rusia Vladimir Putin bertemu secara langsung untuk pertama kalinya di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Jerman.

Sementara 5,5 juta orang warga Suriah telah meninggalkan negara tersebut dan 6,3 juta orang lainnya mengungsi, demikian temuan badan pengungsi PBB.

Amerika Serikat mendukung kelompok pemberontak, sementara Moskow mendukung rezim Suriah dengan mengerahkan bantuan militer. Washington sendiri sejak awal meminta Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur dari kursinya.

Menurut Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, penghentian tembak-menembak ini akan mencakup wilayah Daraa, Quneitra dan Sweida. Kesepakatan ini dilaporkan merupakan hasil pertemuan tertutup antara perwakilan kedua negara di Suriah beberapa bulan lalu.

Lavrov mengatakan Rusia dan AS akan berkoordinasi dengan Yordania untuk bertindak "sebagai penjamin atas ketaatan (gencatan senjata)ini oleh semua kelompok yang bertikai".

Berbicara setelah pertemuan di Hamburg, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan: "Saya pikir ini adalah indikasi pertama kami bahwa AS dan Rusia dapat bekerja sama di Suriah."

Tillerson mengatakan bahwa pertemuan tersebut juga menunjukkan bahwa kedua negara memiliki tujuan yang "persis sama" dalam menyelesaikan masalah di Suriah "persis sama", tetapi mereka berbeda bagaimana cara mencapainya.

Berita terkait