Penjualan senjata Inggris ke Arab Saudi dinyatakan sah

Warga Yaman Hak atas foto EPA
Image caption Ribuan penduduk sipil di Yaman tewas dalam perang saudara di negara itu.

Pengadilan Tinggi London memutuskan bahwa penjualan senjata oleh pemerintah Inggris ke Arab Saudi sah setelah mengkaji bukti-bukti rahasia.

Keputusan itu dikeluarkan dalam sidang pada Senin (10/07).

Hakim mengatakan "materi tertutup" yang tidak dibeberkan ke publik karena alasan keamanan, "menyediakan informasi tambahan yang penting untuk menyimpulkan bahwa keputusan menteri luar negeri untuk membatalkan atau menunda penjualan senjata ke Arab Saudi masuk akal".

Pengadilan menggugurkan argumen para aktivis yang bersikukuh bahwa pemerintah Inggris melanggar hukum kemanusiaan internasional karena menjual senjata ke Arab Saudi yang kemudian digunakan dalam perang di Yaman. Penjualan senjata Inggris, sebagaimana diungkap oleh PBB, menyebabkan ribuan penduduk sipil tewas di Yaman.

Sejak lebih dari dua tahun ini, Arab Saudi melancarkan serangan udara di Yaman dengan sasaran pemberontak Houthi.

Banding

Para aktivis yang tergabung dalam kelompom Campaign Against the Arms Trade membawa kasus penjualan senjata Inggris ke Arab Saudi ini ke Pengadilan Tinggi.

Menanggapi putusan pengadilan, mereka sontak menyatakan akan mengajukan banding.

"Putusan ini sangat mengecewakan, dan kami akan mengajukan banding.

"Jika putusan ini ditegakkan maka hal ini akan dianggap sebagai lampu hijau bagi pemerintah untuk terus mempersenjatai dan mendukung diktator yang brutal dan pelanggar hak asasi manusia seperti Arab Saudi yang sama sekali mengabaikan hukum kemanusiaan internasional," kata Andrew Smith, dari Campaign Against Arms Trade.

Hak atas foto Jonathan Brady/PA
Image caption Dua aktivis membentangkan spanduk menentang penjualan senjata Inggris ke Arab Saudi di depan Pengadilan Tinggi London.

Inggris menjual berbagai senjata ke Arab Saudi, termasuk pesawat tempur Typhoon dan Tornado serta bom terpandu.

Penjualan senjata tersebut menciptakan ribuan lapangan pekerjaan di Inggris dan mendatangkan miliaran poundsterling dalam bentuk pendapatan dari sektor perdagangan senjata Inggris.

Arab Saudi mendukung pemerintahan Yaman yang diakui internasional setelah pecah perang saudara pada 2015.

Pemberontak Houthi, yang setia kepada presiden yang dilengserkan Ali Abdullah Saleh, memulai serangan pada 2014, dan memaksa pemimpin mereka, Abdrabbuh Mansour Hadi mengungsikan diri ke luar negeri untuk beberapa waktu.

Sejak saat itu, kerajaan Arab Saudi, dan delapan negara lain di Teluk yang sebagian besar beraliran Sunni, mendukung serangan udara dengan tujuan mengembalikan pemerintahan di bawah Abdrabbuh Mansour Hadi.

Berita terkait