KBRI Ankara 'mencari' informasi soal WNI bawah umur yang 'dinikahi' petempur ISIS

Pengungsi perempuan Suriah membawa air di kamp al-Mabrouka di desa Ras al-Ain di perbatasan Turki-Suriah. Hak atas foto DELIL SOULEIMAN/AFP/Getty Images
Image caption Pengungsi perempuan Suriah membawa air di kamp al-Mabrouka di desa Ras al-Ain di perbatasan Turki-Suriah.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ankara, Turki, masih mencari informasi soal kepastian identitas warga negara Indonesia (WNI) bawah umur yang 'dinikahi' oleh petempur ISIS.

Informasi tentang keberadaan WNI berusia 15 tahun itu dilaporkan oleh surat kabar Turki, Huriyet, edisi 10 Juli lalu.

Otoritas hukum Turki dilaporkan berhasil menemukan korban, yang berinisial RFR, dalam operasi antiteror di kediaman seorang anggota kelompok militan ISIS, yang berinisial SY, di Provinsi Adana, Turki.

Menurut Huriyet, perempuan berusia 15 tahun itu "dibeli" dari orangtuanya di Istanbul oleh SY -seorang jihadis dan anggota kelompok militan ISIS- untuk "dinikahi".

Hak atas foto HURRIYETDAILYNEWS
Image caption Menurut Huriyet, perempuan berusia 15 tahun itu "dibeli" dari orang tuanya di Istanbul oleh SY -seorang jihadis dan anggota kelompok militan ISIS- untuk "dinikahi".

KBRI Ankara sudah mengajukan permintaan untuk bisa bertemu dengan WNI tersebut, kata salah seorang pejabatnya.

"KBRI sedang mencari informasi dari berbagai sumber, terutama otoritas Turki. Kita sudah minta akses kekonsuleran untuk menemui yang bersangkutan di Adana," kata pejabat KBRI di bidang perlindungan kekonsuleran WNI, Abdul Hakim, kepada BBC Indonesia, Selasa (11/07).

Sejauh ini, "Belum mendapat respons (dari pemerintah Turki), tapi sesegera mungkin kita mendapat izin untuk menemui yang bersangkutan," tambah Abdul Hakim.

Dipulangkan ke Indonesia

Upaya ini dilakukan KBRI untuk memastikan apakah RFR merupakan WNI atau bukan. Menurutnya, otoritas hukum Turki tengah berusaha mendapatkan izin dari kementerian luar negeri negara itu.

"Kita lagi menelusuri apakah (orangtuanya) ada di Istanbul atau sudah di Indonesia, kita belum tahu persis. Kita berharap sesegera mungkin (bertemu) agar mendapat informasi yang jelas, misalnya orangtuanya di mana, saudara-sudaranya di mana," tambahnya lebih lanjut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perempuan Suriah di kamp al-Mabrouka di kampung Ras al-Ain perbatasan Turki-Suriah

Apabila diperoleh kepastian bahwa RFR adalah WNI, maka KBRI akan memberikan pendampingan terutama hak-hak kekonsuleran dan pemulangannya, tegas Abdul Halim.

Seorang perempuan WNI berusia 15 tahun diduga menjadi korban kekerasan seksual anggota kelompok ISIS di Turki, demikian dilaporkan surat kabar Turki, Huriyet pada 7 Juli.

Huriyet melaporkan pelaku tindak kekerasan seksual tersebut berhasil ditangkap setelah sempat dinyatakan buron.

Dilaporkan, otoritas hukum Turki berhasil menemukan korban, yang berinisial RFR, dalam operasi antiteror di kediaman seorang anggota kelompok militan ISIS, yang berinisial SY, di Provinsi Adana, Turki.

'Dibeli' dari orang tuanya

Menurut Huriyet, perempuan berusia 15 tahun itu "dibeli" dari orangtuanya di Istanbul oleh SY -seorang jihadis dan anggota kelompok militan ISIS- untuk "dinikahi".

Korban dilaporkan sempat berbohong perihal nama dan jati dirinya, tetapi aparat hukum Turki akhirnya mengetahui jati dirinya melalui catatan resmi atas nama dirinya di Istanbul.

Hak atas foto AFP
Image caption Huriyet melaporkan pelaku tindak kekerasan seksual tersebut berhasil ditangkap setelah sempat dinyatakan buron.

Kantor kejaksaan Turki meminta keterangan korban sebagai bukti adanya dugaan kasus kekerasan seksual.

Penyelidikan terhadap kasus ini juga untuk menentukan apakah keluarganya terkait dengan ISIS atau tidak. Perempuan berusia 15 tahun itu dilaporkan akan diekstradisi ke Indonesia apabila prosedurnya sudah selesai.

Direktur bidang pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin menolak untuk mengomentari kasus ini secara spesifik, namun secara umum, menurut Hamidin, "sangat memungkinkan kasus itu terjadi".

"Kasus (kekerasan) seksual, perdagangan wanita, itu memang pekerjaan ISIS. Di situ memang ada bursa istri. Misalnya ada (keluarga) yang berkomunikasi dengan kita, ada anak perempuannya yang hampir dikawin paksa oleh tentara ISIS, jadi situasinya seperti itu," kata Hamidin.

Topik terkait

Berita terkait