Dunia internasional kritik perlakuan Cina terhadap pegiat HAM yang wafat

Liu Xiaobo Hak atas foto LIU XIA / HANDOUT
Image caption Liu Xiaobo meraih Nobel Perdamaian 2010. Dia meninggal dunia akibat kanker liver.

Cina menghadapi berbagai kritik dari dunia internasional atas perlakuan terhadap Liu Xiaobo, pegiat hak asasi yang meninggal dunia pada usia 61 tahun akibat kanker liver.

Komite Nobel di Norwegia mengatakan pemerintah Cina menanggung 'tanggung jawab besar' atas kematian Liu yang diganjar Nobel Perdamaian pada 2010.

Di samping menyebut kematian Liu "terlalu dini", Komite Nobel juga menyatakan sikap Cina yang menolak kepergian Liu untuk berobat ke luar negeri "sangat mengganggu".

Menanggapi kritik itu, pemerintah Cina menegaskan bahwa penanganan Liu adalah urusan dalam negeri dan negara-negara lain "tidak berada dalam posisi untuk membyat pernyataan yang tidak patut".

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, menyesali Liu tidak bisa berobat ke luar negeri.

"Cina kini punya tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan secara cepat, transparan, dan masuk akal mengapa penyakit kankernya tidak diketahui jauh sebelumnya," kata Gabriel.

Hak atas foto Handoupt/AFP
Image caption Liu Xiaobo dan istrinya, Liu Xia, pada tahun 2002. Sejumlah pihak kini mendesak pemerintah Cina membebaskan Liu Xia untuk bepergian ke luar negeri.

Pernyataan senada dikemukakan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson.

"Liu Xiaobo seharusnya diizinkan memilih perawatan medis di luar negeri, yang berulang kali ditolal aparat Cina. Ini tindakan yang salah dan kini saya mendesak mereka mencabut semua pelarangan terhadap janda Liu," kata Johnson.

Pemerintah Cina melarang Liu hijrah ke luar negeri untuk menjalani perawatan. Larangan itu disertai pernyataan para ahli kesehatan Cina yang menegaskan bahwa dia sudah terlalu sakit untuk melakukan perjalanan.

Namun seorang dokter Jerman dan Amerika Serikat—yang beberapa waktu lalu mengunjungi dan memeriksanya di sebuah rumah sakit di Shenyang—berpendapat Liu Xiaobo masih mampu melakukan perjalanan.

Setelah Liu Xiaobo meninggal dunia, Jerman, Inggris, AS, dan Prancis meminta kepada Cina untuk membolehkan jandanya, Liu Xia bertolak ke luar negeri.

Permintaan ini mendapat dukungan Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Zeid Ra'ad Al Hussein, yang mendesak Cina "menjamin kebebasan pergerakan Liu Xia."

Hak atas foto Getty
Image caption Liu Xiabo pertama kali dikenal pada masa unjuk rasa terkenal di Lapangan Tiananmen, Beijing, tahun 1989.

'Kekuatan Barat' mempolitisasi

Pernyaan resmi Kementerian Luar Negeri Cina menyebutkan: "Penanganan kasus Liu Xiaobo merupakan urusan dalam negeri Cina dan negara-negara asing tidak berada dalam posisi untuk membuat pernyataan yang tidak patut".

Sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang, menambahkan bahwa pejabat kesehatan Cina telah mengerahkan upaya penuh untuk merawat Liu.

Sebuah surat kabar yang dikelola pemerintah menerbitkan editorial yang menuding 'kekuatan Barat' mempolitisasi peristiwa itu.

Sejumlah koresponden mengatakan peliputan kematian Liu Xiabo di Cina sangat sepi. Kantor berita Xinhua dan CCTV hanya merilis pernyataan singkat pada situs berbahasa Inggris bahwa Liu Xiaobo, sang 'terpidana subversif, telah meninggal dunia.

Harian Global Times yang merupakan corong Partai Komunis Cina menerbitkan editorial berbahasa Inggris bahwa Liu Xiaobo adalah "korban penyesatan" Barat.

"Pihak Cina senantiasa berfokus pada perawatan Liu, tapi beberapa kekuatan Barat selalu mencoba mengalihkan ke isu politik dan membesar-besarkan perawatannya sebagai isu 'hak asasi'."

Di media sosial, reaksi atas kematian Liu Xiaobo telah disensor. Sejumlah komentar dihapus, termasuk pesan berbunyi 'RIP' dan emoji lilin.

Topik terkait

Berita terkait